[FANFIC CONTEST] My Best Chanyeol #4


FanFic Contest : #5

MY BEST CHANYEOL

[Genre: Romance]

“Kamsahamnida.”

Ucapku datar sambil menatapnya dingin. Hanya itu yang bisa kukatakan saat melihat namja itu di depanku. Anak kecil dengan rambut kecoklatan itu menjawab sambil tersenyum lebar.

“Gwaenchanayo. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Ayo kita pulang. Dimana rumahmu?” tanyanya sambil menggandeng tanganku. Masih sambil tersenyum.

“Mmm.” Aku menggumam dan mengangguk, sambil menghapus sedikit sisa air mataku. Aku telah menangis banyak. Sekujur tubuhku basah. Badanku bergetar. Aku benar-benar ketakutan.

“Bagaimana kau bisa masuk kesana? Apa kau tidak bisa berenang?” tanyanya.

“Aku.. aku tidak tau. Aku sedang memikirkan.. memikirkan sesuatu. Tiba-tiba saja.. sepedaku tergelincir masuk ke sungai itu.. aku..” jawabku masih sesenggukan. Aku mau menangis lagi.

Kemudian anak itu menepuk-nepuk pundakku pelan, sambil tersenyum menenangkan.

“Baiklah, baiklah. Sudahlah, tidak apa-apa sekarang. Jangan menangis, kau sudah selamat. Nah, rumahmu yang mana?”

Aku tersenyum sedikit, “Itu. Di ujung jalan. Yang pagarnya berwarna biru.”

“Ah.. aku tahu.  Ayo cepat, bajumu basah semua. Nanti kau bisa kena flu.” Sebelah tangannya menggandengku, sebelahnya lagi menuntun sepedaku. Seluruh tubuhnya juga basah.

Aku tidak tau bagaimana memulai ceritanya, seingatku aku sedang bersepeda, lalu aku antusias memikirkan kado apa yang akan kudapat di hari ini. Yap, hari ini adalah hari ulang tahunku yang keenam. Tapi yang terjadi selanjutnya malah aku tak melihat sungai kecil yang ada di depanku. Sepedaku tergelincir dan masuk kesana.  Tanganku menggapai-gapai. Ingin meraih sesuatu atau apapun yang membuatku tidak akan tenggelam. Aku yang tak bisa berenang lalu panik berteriak ketakutan. Tapi sepertinya sia-sia saja. Pasti tak ada yang mendengarku karena daerah di sini sepi. Dan dengan berteriak itu malah membuat banyak air masuk ke mulut dan hidungku. Badanku terhempas menabrak beberapa bebatuan. Sakit. Aku menangis ketakutan dan kesakitan. Air pun semakin banyak masuk. Beberapa tertelan olehku.

Eomma aku takut.. Eomma tolong aku.. Siapapun tolong..

Aku memejamkan mata. Berharap siapapun datang dan menolongku. Lalu tiba-tiba aku melihat sekilas dengan mata setengah terpejam, sesosok anak kecil melompat dari pohon di samping sungai, lalu berlari dan terjun masuk ke dalam sungai. Dia menarik tanganku dan berenang membawaku ke tepi sungai. Dia mengajakku duduk di sebuah bangku, lalu dia kembali ke sungai dan mengambil sepedaku yang terjatuh disana. Aku menangis keras. Lutut dan sikuku lecet, tenggorokan dan hidungku sakit, perih dimana-mana. Aku masih sangat ketakutan. Untung dia menyelamatkanku. Jika tidak mungkin aku sudah..

“Nah kita sudah sampai” ucapnya. Menyadarkanku dari lamunan.

“Ah iya”. Aku segera memencet bel rumah. Lalu Bibi Minsoo, salah satu pelayan di keluarga kami keluar.

“Astaga, Yara! Apa yang terjadi? Kau sangat berantakan! Ada apa ini?” tanya Bibi Minsoo panik. Aku hanya diam membisu. Tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Aku masih ketakutan. Akhirnya anak itu angkat bicara,

“Tadi dia terjatuh masuk ke sungai. Dia berteriak ketakutan jadi kupikir dia tidak bisa berenang, lalu ku tolong. Dia sedikit terhanyut arus sungai tadi, tapi untung arusnya tidak deras. Sepertinya dia juga menabrak batu-batu, tangan dan kakinya lecet. Tolong segera diobati ya sebelum infeksi. Ah iya, dia juga sepertinya menelan banyak air.” Ucapnya panjang lebar sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya mengangguk menyetujuinya. Mataku memandang ke bawah, ke arah sepatu sandal Mickey Mouse kesayanganku, yang sekarang telah basah dan robek. Mungkin terantuk salah satu bebatuan itu.

“Ah begitu.. baiklah Yara ayo masuklah. Kau harus segera mengganti bajumu sebelum terkena flu. Ini hari ulang tahunmu tetapi kenapa kau jadi berantakan seperti ini? Ah baiklah terima kasih ya nak. Tapi bajumu juga basah. Apa kau tidak apa-apa? Dimana rumahmu?” tanya Bibi Minsoo sambil menggandengku dan membawa sepedaku masuk.

“Ah aku baik-baik saja! Itu rumahku di depan sana. Aku baru saja pindah kesini kemarin. Salam kenal! Aku juga akan segera pulang dan berganti baju kok.” Ujarnya sambil mengangguk memberi hormat lalu menunjuk rumah di sebelah kiri rumah di depanku. Rumah kami hanya serong berseberangan.

“Oh ya apa hari ini ulang tahunmu?” tanyanya kearahku. Masih sambil tersenyum. Mungkin dia tidak akan pernah kehabisan senyum selamanya. Aku mengangguk.

“Wah selamat ulang tahun ya kalau begitu! Lain kali kau harus berhati-hati. Dan belajarlah berenang agar kau tidak tenggelam lagi. Ehehe” dia menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang ompong, sambil menjabat tanganku. Sekali lagi aku hanya bisa mengangguk dan menjabat balik tangannya.

“Oh iya perkenalkan namaku Chanyeol. Park Chanyeol.” Ucapnya memperkenalkan diri.

“Aku Yara. Kim Yara” balasku sambil tersenyum.

“Senang berkenalan denganmu! Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya! Lain kali ayo kita bermain lagi. Oh iya segera ganti bajumu, nanti kau bisa sakit. Daah!”. Ia melepaskan jabatan tangannya dan berlari menuju sambil sesekali menoleh kebelakang, melambaikan tangannya kearahku. Aku balas melambai. Lalu ia masuk ke gerbang rumahnya.

“Ya, kita pasti akan bermain lagi..” gumamku pelan. Lalu Bibi Minsoo membawaku masuk dan menutup pintu rumah.

“Bibi..”

“Ya? Ada apa Yara?”

“Dimana aku bisa belajar renang?”

***

Aku melangkah keluar kamar, berjalan melewati lorong rumah menuju ruang makan. Bibi Minsoo mengikuti di belakangku.

“Apakah Appa dan Eomma datang?” tanyaku antusias sambil berlompat-lompat. Aku telah mandi dan berganti baju, mengenakan gaun pink yang baru Eomma kirimkan kemarin. Aku juga telah memakai topi ulang tahun dan membawa terompet kecil.

“Ah.. soal itu..” Bibi Minsoo terlihat cemas dan gelisah. Aku menghentikan langkahku.

“Mereka tidak datang?” ucapku datar. Bibi hanya diam.

“Mereka tidak datang ya?” aku bertanya sekali lagi. Kesal pada Bibi Minsoo yang tidak juga menjawab pertanyaanku. Kemarahanku menyeruak.

“MEREKA TIDAK DATANG KAN?!” aku berteriak marah, membuang terompet yang aku genggam. Mataku berair. Mereka tidak datang lagi.

“Ah.. mereka pasti datang nanti, mungkin mereka masih di jalan, Yara. Bersabarlah..” ucap Bibi Minsoo menenangkanku, sambil berlutut menggenggam pundakku.

“Bohong” aku mendesis. Mungkin mereka pikir aku masih anak kecil. Aku memang masih anak kecil. Tapi aku tidak bisa dibohongi.

“Bibi jangan bohong padaku, nanti aku benci sama Bibi.” ucapku.

“Maaf Yara, Appa dan Eomma mu tidak bisa datang karena mereka harus mengurus sesuatu di Amerika. Tapi mereka telah mengirimkanmu hadiah. Disini juga masih ada Bibi Minsoo, Paman Jaesuk, Paman Kwangsoo, dan Bibi Minyoung. Ayo kita rayakan ulang tahunmu bersama. Kuenya sudah Bibi siapkan di meja.” Ujarnya. Paman Kwangsoo adalah supir di keluarga kami, sedangkan Paman Jaesuk dan Bibi Minyoung juga merupakan pelayan di rumah ini. Bibi bangkit dan menggandeng tanganku menuju meja makan. Tapi moodku sudah rusak. Sudah hancur.

Aku duduk mengamati kue coklat bertingkat dua itu. Para paman dan bibi berdiri disampingku, bertepuk tangan dan menyanyikan lagu ulang tahun. Aku melihat setumpuk kartu ucapandi atas meja, kemudian kuambil. Ada dari kakek, paman sooman, dan teman-teman Appa dan Eomma. Ada juga amplop berwarna pink dengan pita merah disitu.

Dari Eomma.

Aku membukanya, meniti setiap tulisan tangan Eomma disitu yang memang tidak banyak.

Selamat Ulang Tahun yang ke 6 Yara sayang. Semoga Tuhan memberkatimu. Maaf Eomma tidak bisa datang.

Love you,

Eomma.

“Love you? Cih. Kalau memang benar begitu mengapa kau tidak datang.” Gumamku. Mereka bahkan tidak meneleponku secara langsung untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Mataku mulai berair.

“Yara, ini hadiah dari Appa dan Eomma mu.” Kata paman Kwangsoo sambil menyerahkan boneka Teddy Bear putih besar berpita pink. Aku menatapnya penuh benci. Kuambil boneka itu dan kulempar ke sudut ruangan. Aku juga melepas topi ulang tahunku dan membantingnya ke arah kue itu. Paman dan Bibi berhenti bernyanyi. Aku berlari menuju kamar.

Kututup pintu kamarku. Kukunci sehingga tidak ada yang masuk. Aku melompat ke arah tempat tidurku, menangis hingga aku tertidur.

***

“Bagaimana ulang tahunmu kemarin?” tanya anak itu. Ah iya, aku lupa. Namanya Chanyeol.

“Buruk.” Ucapku sekenanya, sambil mengayun-ayunkan diri di ayunan. Kami sedang berada di taman perumahan kami. Chanyeol sedang bermain di bak pasir.

“Eh? Kenapa?” tanyanya. Matanya membulat, ingin tahu. Aku menatapnya, lucu.

“Yah, begitulah.” Aku memutar bola mataku, mengalihkan perhatian dari tatapan heran Chanyeol.

“Ahaha, kau seharusnya mengundangku Yara. Kau pasti akan senang.” Ucapnya tertawa-tawa. Memperlihatkan giginya yang ompong. Aku juga ikut tertawa.

“Sok tau” jawabku. Sambil menghentakkan kakiku di pasir, menendang-nendangnya ke arah Chanyeol.

“AAA! Yara, kau mengenaiku!” teriak Chanyeol.

“Hahaha rasakan!” ucapku sambil tertawa keras.

“Aku masih heran, bagaimana kau bisa tidak bahagia di hari ulang tahunmu Yara? Kalau aku jadi kau aku  pasti senang sekali” tanyanya sambil menggosok-gosok rambutnya yang berpasir. Aku mendengus kesal.

Jangan mulai pembicaraan ini lagi, Chanyeollie.

“Jangan sok tau! Memangnya kau tau rasanya ulang tahun yang hanya dirayakan bersama para pelayanmu tanpa orang tuamu? Bahkan orang tuaku hanya mengirimkan hadiah dan kartu ulang tahun tanpa memberikan kabar apa-apa? Kau tidak tahu apa-apa makanya jangan sok tahu!” bentakku kasar.

Kemudian Chanyeol menatapku diam. Aku menatap sepatu sandal Mickey Mouse baruku. Aku kesal pada Chanyeol yang seenaknya saja mengatakan kalau..

“Aku tahu.” ucap Chanyeol tiba-tiba. Aku mengangkat kepalaku, menatap Chanyeol.

“Hah?”

“Aku tahu rasanya. Aku tahu rasanya ulang tahun tanpa orang tua, Yara.”

“Bagaimana bi..”

“Karena orang tuaku telah meninggal. Mereka meninggal tiga hari sebelum ulang tahunku yang ke empat. Mereka meninggal saat akan membelikanku kado untuk ulang tahunku. Aku tahu, Yara. Aku sangat tahu bagaimana rasanya ulang tahun tanpa orang tua. Tapi kau seharusnya senang, mereka masih bisa mengirimkanmu hadiah dan memberikan ucapan bukan?” ucapnya sambil tersenyum. Berdiri dan menepuk-nepuk celananya.

“Maaf Chanyeol..” aku merasa bersalah. Itu tadi terlalu kasar.

Ah kau bodoh sekali, Yara..

“Sudahlah tidak apa-apa. Oh iya aku belum memberimu hadiah bukan? Sini ikut aku, akan kuberikan hadiahnya. Ayo” ucap Chanyeol sambil menarik tanganku. Aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

Chanyeol membawaku ke depan pohon di dekat sungai tempat aku terjatuh kemarin.

“Ini hadiahku? Pohon?” aku menatapnya heran.

“Ahaha, tentu saja bukan. Pohon ini kan bukan milikku, Yara. Sekarang tutup matamu.” Ucapnya tertawa. Aku menurut.

Lalu chanyeol memanjat pohon itu, dan tangannya membimbingku memanjat pohon itu.

”Aku tidak bisa memanjat pohon, Chanyeol.” Ucapku lalu membuka mataku.

“Ini mudah, Yara. Dahannya kuat dan aku pasti akan memegangmu erat. Jangan takut. Nah sekarang tutup matamu” ucap Chanyeol menyeringai.

Aku memandang ke atas.

Ya, mungkin ini tidak terlalu sulit.

Aku kembali menutup mataku, chanyeol membimbingku menaiki dahan-dahan itu. Selangkah demi selangkah, dahan demi dahan, dengan perlahan agar aku tidak terjatuh. Chanyeol benar, pohon ini mudah dinaiki. Ah tidak, pasti Chanyeol yang membuat ini mudah dinaiki.

“Nah sekarang buka matamu.” Ucap Chanyeol.

Aku membuka mata, menatap pemandangan di depanku. Pepohonan hijau dengan sungai membentang membelahnya, sungai tempatku terjatuh kemarin. Juga beberapa burung-burung berterbangan di atasnya. Dan atap-atap rumah perumahan lain dan taman-taman.

Indah sekali.

Angin membelai wajahku dan memainkan rambutku. Aku masih terpana menatap pemandangan di depanku. Aku tidak tahu ada pemandangan seindah ini disini.

“Wow Chanyeol, aku tidak tahu ada tempat seperti ini disini.” Ucapku masih terkagum

“Ahaha. Inilah hadiah ulang tahunmu, Yara. Bagus bukan? Lebih bagus lagi kalau kau melihatnya saat matahari terbenam. Oh iya, ini tempat rahasia kita ya. Janji?” Chanyeol mengacungkan kelingkingnya. Aku menatapnya sesaat, kemudian mengaitkan kelingkingku ke jari kelingking Chanyeol.

“Janji.” Ucapku sambil tersenyum lebar.

***

11 tahun kemudian…

“Yara! Kim Yara! Yaaaraaaaa~~” teriakan Chanyeol membuatku mempercepat sarapanku. Segera kuteguk air putih dan berlari ke depan. Chanyeol telah menungguku disana dengan seringai lebarnya. Aku membalas tersenyum sambil membetulkan tali sepatuku.

Aku dan Chanyeol sudah memasuki SMA sekarang. Sejak hari ulang tahunku yang ke enam itu aku dan Chanyeol sudah menjadi sahabat dekat. Dimana ada Chanyeol, selalu ada Yara. Kami juga selalu satu sekolah sejak SD. Bukan karena kebetulan, tapi memang karena aku selalu mengikuti Chanyeol kemanapun dia pergi. Aku memang agak susah berkenalan dan akrab dengan orang-orang baru. Orang-orang selalu menganggapku dingin, bahkan ada yang bilang aku sombong karena aku tidak banyak bicara dengan mereka. Berbeda denganku, Chanyeol kepribadiannya sangat cerah. Dia mempunyai banyak teman dan kenalan. Mulai dari teman-teman sekolah, guru-guru, bahkan sampai pelayan cafe tempat aku dan Chanyeol membeli Bubble tea favorit kami, ahjumma-ahjumma tetangga, dan tukang perawat taman dan.. dan banyak sekali orang-orang lain. Dimanapun Chanyeol pasti ada orang yang menyapanya. Bahkan orang-orang memanggilnya happy virus karena keceriaannya. Meski begitu banyak teman yang dipunyai Chanyeol, menurutnya aku tetaplah sahabat baiknya. Aku, Yara, si anak yang pendiam, dingin, suram, dan tidak punya teman. Itulah yang membuatku tidak membutuhkan orang lain lagi. Aku sudah punya Chanyeol. Aku tidak perlu siapapun.

“Pagi, Chanyeol!” panggil Baekhyun, salah satu teman kami, saat kami tiba di sekolah.

“Pagi Baekhyun! Hei tumben kau datang lebih awal?” Chanyeol memeluk Baekhyun, menepuk punggungnya, sambil tertawa-tawa. Aku hanya melihatnya. Ini sudah biasa terjadi. Chanyeol yang terlihat dan selalu disapa, dan Yara yang suram, kaku, dan tidak kelihatan akan terabaikan. Ha ha ha. Aku tersenyum sinis.

“Ya, aku harus menyalin PR dulu karena kemarin aku lupa mengerjakannya. Ehehe” Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian Baekhyun melirikku yang sedari tadi menatapnya.

“Eh.. hai Yara..” ucap Baekhyun menatapku ragu-ragu. Aku membuang nafas.

Kau tidak perlu memaksakan diri untuk menyapaku, Baekhyun.

“Hai” jawabku singkat. Terdengar sedikit ketus.

Chanyeol sepertinya memahami ke-kaku-an kami kemudian menarik tanganku.

“Kami harus segera ke kelas, Baekhyun. Daah!” Chanyeol melambai kearah Baekhyun. Kemudian menarik lenganku menuju kelas kami.

“Jangan terlalu kasar seperti itu, Yara. Nanti kau tidak punya teman.” Kata Chanyeol saat kami sudah duduk di bangku kami. Oh iya, kami duduk sebangku.

“Biarkan saja, aku tidak butuh teman.” Aku menatap Chanyeol datar, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku tidak butuh teman, Chanyeol. Aku sudah punya Chanyeollie yang akan selalu jadi teman baikku, selamanya.

Chanyeol menghela nafas panjang, dia menyerah. Dia tahu tidak akan bisa berdebat denganku. Aku tersenyum, kemudian menaruh tasku ke atas meja, dan menata buku-buku pelajaranku.

“Ah iya, Yara.. Ehehe apa aku boleh pinjam PR mu?”

***

“Yak. Dan kali ini Bapak akan membagikan hasil ulangan kalian minggu lalu. Kim Yara, kau mendapat nilai sempurna lagi kali ini. Selamat! Bagi anak-anak yang nilainya merah silakan menemui saya di kantor guru untuk mendapatkan tugas tambahan.”

“Wuuu..” seluruh kelas bersorak. Kecuali aku. Aku pun maju menerima kertas ujian matematika yang diberikan.

“Yara, kau ini aneh. Kita sama-sama makan nasi kan? Kita hidup dengan udara yang sama, sekolah selalu bersama, bahkan rumah kita berseberangan! Yah.. tidak terlalu berseberangan sih. Tapi kenapa kau bisa pintar? Sedangkan aku? Uuh..” Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengamati kertas ujiannya. Ada angka yang dilingkari dan berwarna merah disitu. Aku tersenyum menatapnya.

“Mungkin karena kau banyak tertawa, Chan. Kau harus menyumbangkan banyak energimu ke otak, untuk berpikir. Bukannya ke perut dan mulutmu, untuk tertawa. Ehehe” aku tertawa terkekeh.

“Yah!” Chanyeol menjitak dahiku pelan. Kemudian kami tertawa bersama.

Dan kemudian aku merasa ada beberapa orang yang memandangku dengan tatapan aneh.

***

“Chanyeol benar-benar tampan!”

“Ya benar! Dia punya badan tinggi atletis, kulitnya cerah secerah kepribadiannya.”

Kudengar gadis-gadis itu terkikik. Huh, para fans Chanyeol yang lain. Aku segera bangkit dan melangkahkan kakiku keluar dari kubikel toilet ini.

“Tapi aku masih heran, bagaimana bisa Chanyeol yang se supel itu bisa bersahabat dengan Yara yang dingin.”

Kemudian langkahku terhenti.

“Ya, aku juga berpikir begitu. Menurutku mereka tidak cocok. Yara memang cantik sih, kaya, dan pintar. Tapi dengan sifatnya yang dingin itu, pasti tak ada seorangpun yang mau berteman dengannya.”

“Hahaha. Mungkin Chanyeol tersihir oleh Yara! Yara mendatangi penyihir Voodoo agar Chanyeol mau berteman dengannya! Hahahaha!” mereka terkikik. Kepalaku memanas. (Ps: Penyihir Voodoo=semacam dukun)

Kalianlah yang penyihir, bodoh.

Aku memutuskan untuk keluar dan memberi pelajaran pada mereka.

“Hei, jangan asal menuduh. Mungkin Yara belum siap untuk berteman, mungkin Yara sendiri juga tidak tahu bagaimana agar kita bisa berteman. Dan kita juga tidak akan pernah bisa berteman kalau kalian terus membicarakannya dibelakang Yara seperti ini. Apa kalian ingin berteman dengan Yara? Kalau kalian ingin berteman dengannya, dekatilah dia baik-baik. Apa kalian iri dengan Yara?”

Langkahku terhenti. Itu suara Sulli, ketua kelasku.

“Yah! Sulli! Buat apa kau terus membela Yara? Kau sendiri sering mendapatkan perlakuan dingin dari Yara kan? Lagi pula siapa yang iri dengan orang sombong itu?!”

“Apa aku membelanya? Aku hanya menyadarkan kalian agar kalian tidak selalu membicarakan orang lain di belakang seperti ini. Bukankah kau sendiri yang bilang, kalau Yara itu cantik, kaya, dan pintar, Hyosung?”

Oh, salah satu dari penyihir itu Hyosung. Salah satu Celebrity School di sekolah kami. Berarti orang-orang lain dibelakangnya adalah pasukan centilnya. Dia iri padaku? Huh lucu sekali. Tidak masuk akal.

Kemudian aku mendengar pintu toilet ditutup.

“Yah! Sulli! Aku belum selesai bicara denganmu!” Hyosung berteriak.

Berarti Sulli yang keluar dari toilet. Aku segera memutar kenop pintu dan membukanya, lalu berjalan menyusul Sulli. Hyosung dan pasukannya terkaget melihatku secara tiba-tiba.

“Ya.. Yara?!” ucap Hyosung terbata-bata

Aku menghentikan langkahku sejenak. Kemudian berjalan menghampiri Yara.

“Ada apa Hyosung? Apa kau ingin tahu penyihir Voodoo mana yang aku datangi?”

Kemudian aku segera berjalan keluar toilet dan menutupnya tepat sebelum Hyosung berteriak.

“Yah! YARAAAA!!”

***

“Hah? Benarkah kau berkata seperti itu?” Chanyeol berhenti meminum Bubble Tea nya, menatapku tidak percaya.

“Mm  hm” aku menggumam. Sambil terus menyeruput Bubble Tea ku dan bermain game di iPhone ku. Chanyeol menghembuskan nafas putus asa.

Kami sedang berada di bangku taman dekat perumahan kami, menikmati Chocolate Bubble Tea yang kami beli tadi. Chocolate Bubble Tea kesukaan Chanyeol, dan karena itu jadi kesukaanku juga. Apapun yang disukai Chanyeol akan kusukai.

“Yah.. Yara, bukankah aku sudah berkata padamu agar kau bisa berteman dengan mereka? Bukan bermusuhan?” Chanyeol menatapku intens.

Jangan menatapku seperti itu Chanyeol. Lagipula kenapa kau membela mereka? Mereka yang menjelek-jelekkanku, mengapa kau tidak membelaku?

“Yah Chanyeol, bukankah aku sudah berkata padamu aku tidak membutuhkan teman?” aku membalas Chanyeol, masih sambil bermain game.

“Tapi kau tidak bisa hidup seperti ini selamanya. Mengapa kau tidak mau memiliki teman, Yara?” Nada suara Chanyeol tampak khawatir.

Karena aku sudah mempunyaimu, Chanyeol. yang selalu menerimaku apa adanya disaat mereka diluar sana selalu menuntutku yang macam-macam. Karena kau tidak pernah memaksakan kehendakmu, tidak pernah marah, dan selalu membuatku tertawa disaat orang lain hanya mampu membuatku sakit hati. Karena kau selalu ada disini untukku, Chanyeol. Disisiku. Di saat orang lain tidak.

“Yara, aku bertanya padamu.” Chanyeol mengambil iPhone ku, karena dia pikir aku mengabaikannya.

“Berhentilah bertanya seperti itu.” Jawabku dingin.

“Mengapa? Belajarlah untuk membuka hatimu untuk orang lain, Yara. Banyak orang baik diluar sana yang siap untuk berbagi apapun denganmu. Senang maupun sedih. Lagipula kita tidak mungkin bersama selamanya kan?”

Jawaban Chanyeol membuatku tersentak. Seperti ada yang mengiris-iris jantungku.

Lagipula kita tidak mungkin bersama selamanya kan?

Mataku mulai berair.

“Apa kau akan meninggalkanku Chanyeol?” suaraku serak.

“Bukan, bukan seperti itu Yara. Cepat atau lambat kau pasti membutuhkan seorang teman kan? Karena menurutku.. karena menurutku kita tidak tahu bagaimana masa depan kita kan? Kita tidak tahu apakah masih bisa.. masih bisa bersama seperti ini. Maksudku.. kita pasti punya kehidupan sendiri-sendiri kan?”

Cukup Chanyeol. Jangan dilanjutkan.

“Apa aku ini beban bagimu? Apa kau tidak suka aku mengikutimu kemana-mana? Apa kau terbebani olehku, Chanyeol?” suaraku bergetar saat mengatakan itu. Mataku merah, tidak berani menatap Chanyeol. Aku menatap sepatuku.

Tidak. Aku tidak akan menangis lagi di depan Chanyeol. Aku tidak akan membiarkannya melihatku menangis.

Aku menggenggam rok seragamku semakin kuat. Mataku semakin buram.

“Tidak.. tidak Yara. Bukan seperti itu, aku hanya..” Chanyeol semakin khawatir. Mendengarnya berbicara lagi membuat mataku semakin buram.

Aku segera bangkit dan berlari menuju rumahku yang sudah dekat. Chanyeol yang terkejut segera mengejarku. Tapi langkah kakiku lebih cepat dari Chanyeol. Aku segera membuka pintu dan menutupnya dengan keras lalu menguncinya. Aku bersandar pada pintu itu, menangis sesenggukan. Lalu Chanyeol datang. Memukul-mukul pintu yang kusandari dengan keras.

“Yara buka pintunya! Aku tidak pernah bermaksud seperti itu Yara! Yara buka pintunya! Yara!” Chanyeol memukul pintuku semakin keras. Cukup keras untuk membuatku yang bersandar disitu sedikit terpantul karena pukulannya. Aku menangis dalam diam, terduduk, dan membiarkan air mata deras menuruni wajahku.

“Tolong buka pintunya Yara, aku tidak pernah menganggapmu beban, sungguh.. buka pintunya Yara, maaf karena kata-kataku menyakitimu. Aku tak pernah bermaksud melakukannya, sungguh. Yara, buka pintunya. Aku mau bicara denganmu..” Chanyeol memohon, suaranya bergetar. Ketukannya semakin lemah. Chanyeol tidak pernah memohon seperti itu padaku. Chanyeol tidak boleh memohon seperti itu padaku.

Jangan memohon Chanyeol, aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu. Aku tahu kau orang baik Chanyeol, aku tahu kau tidak pernah bermaksud menyakiti orang lain, siapapun itu. Tapi aku hanya tidak mau kau melihatku menangis lagi. Maaf Chanyeol..

Mungkin Chanyeol sedang menahan tangis diluar sana. Aku tahu. Saat aku tertawa, Chanyeol akan tertawa bersamaku. Saat aku sedih dan menangis, Chanyeol akan menangis bersamaku. Saat aku ketakutan, Chanyeol juga akan –bahkan lebih- ketakutan bersamaku. Chanyeollie tidak akan meninggalkanku sendirian.

Paman Jaesuk lalu mendatangiku. Mungkin karena ia mendengar suara berisik yang disebabkan Chanyeol dan aku. Paman Jaesuk pun kaget melihatku menangis diam dan terduduk di depan pintu. Paman Jaesuk segera menarikku bangun dan menepuk-nepuk lenganku. Aku mengehentikan tangisku sesaat dan berkata pada Paman Jaesuk,

“Bilang padanya aku tidak ingin diganggu” kemudian aku naik ke kamar. Tidak peduli karena masih memakai seragam lengkap dengan sepatu, aku menghempaskan diri ke kasur, menangis hingga pagi datang. Bahkan makanan yang ditaruh Bibi Minyoung di depan kamar tidak kusentuh.

***

Aku membuka mata karena silau matahari yang masuk melalui sela-sela kaca jendela kamarku. Aku mengernyitkan mata berusaha mengumpulkan kesadaran. Aku terduduk. Mengamati pantulan diriku di kaca rias tepat didepan ranjangku. Berantakan. Rambutku kusut, mataku sembab dan merah. Aku masih memakai seragam lengkap dengan sepatu. Segera kulepas kaus kaki dan sepatuku, mengambil handuk dan piyama di lemari kemudian berjalan menuju kamar mandi. Aku harus membersihkan dan merapikan diri.

Aku berjalan keluar kamar pukul sepuluh tepat, sambil mengenakan piyama dan menggosok rambutku yang masih basah dengan handuk. Rasa lapar yang kuat membimbingku menuju ruang makan. Aku meminta Bibi Minyoung menyiapkan pancake karena laparku yang sangat sangat sangat tidak bisa ditahan ini.

“Maaf tapi Nona Yara belum makan dari kemarin sore, apakah Nona Yara lebih baik makan bubur saja? Agar bisa menghangatkan perut Nona Yara juga.” Bibi Minyoung bertanya hati-hati.

“Menurut Bibi lebih baik begitu?” tanyaku. Bibi Minyoung mengangguk.

“Ya sudah, terserah bibi saja.” Ucapku datar sambil duduk di atas meja makan.

Aku baru akan mengirim sms pada Sulli kalau aku tidak bisa masuk hari ini, saat aku sadar iPhone ku masih ada di tangan Chanyeol.

“Aish..” ucapku kesal. Bodohnya aku.

“Nona Yara, ini dari teman Nona Yara.” Paman Jaesuk datang ke arahku sambil menyerahkan iPhone ku. Ah ini dia.

“Ah iya terimakasih.” Jawabku.

“Teman Nona itu.. Park Chanyeol.. menitipkan ini dan berpesan agar supaya Nona cepat sembuh.” Lanjut Paman Jaesuk.

Sembuh? Ah iya Chanyeol pasti tahu aku sakit. Bukan sakit yang seperti itu, Chanyeol tahu aku sakit. Teramat sakit. Di dalam sini. Chanyeol paling tahu apapun tentangku. Chanyeol yang paling tahu.. ah, Chanyeol..

“Mm hm”. Aku menjawab Paman Jaesuk sekenanya. Aku menghidupkan layar iPhone ku. Layarnya masih menunjukkan gameku yang masih di pause kemarin. Saat Chanyeol mengambil iPhoneku dari tanganku. Saat Chanyeol berusaha berbicara denganku. Chanyeol tidak membuka-buka iPhone ku. Chanyeol sangat menghargai privasi orang lain. Chanyeol tidak pernah jahat. Tidak sadar akupun tersenyum.

Setelah menghabiskan bubur buatan Bibi Minyoung, aku pun beranjak dari kursi menuju kammarku di lantai atas. Bubur buatan Bibi Minyoung memang paling enak sedunia.

Aku menghempaskan diri ke atas kasur. Aku membuka iPhoneku. Ada SMS dari Sulli. Hmm, Sulli. Ketua kelas kami. Yah, mungkin dia memang orang baik. Dia mau berbicara denganku meskipun aku selalu mengacuhkan dan bersikap dingin kepadanya. Aku segera membuka SMS itu.

From: Sulli

Yara? Kenapa kau tidak masuk? Apa kau sakit? Chanyeol memberi tahu kepadaku agar bilang ke pak guru kalau kau sakit flu. Apa kau benar-benar sakit flu? Semoga cepat sembuh~~ J

Aku segera membalas.

To: Sulli

Iya benar aku sedang tidak enak badan hari ini. Mungkin beberapa hari ini aku tidak akan masuk. Terima kasih Sulli.

Send. Tiga menit kemudian ada balasan dari Sulli.

From: Sulli

Baiklah kalau begitu, akan kusampaikan ke pak guru. Cepat sembuh ya, Yara. Kami mengkhawatirkanmu J

Kami? Kami siapa? Sejujurnya hari ini aku sedang tidak ingin masuk. Aku takut melihat wajah Chanyeol. Aku takut Chanyeol akan menjauhiku gara-gara kemarin.

***

Ini sudah hari ketiga aku tidak masuk sekolah. Aku duduk di ranjangku, menatap setumpuk kertas yang ditaruh Bibi Minsoo di meja belajarku. Itu salinan catatan pelajaran selama aku tidak masuk sekolah. Dari siapa lagi kalau bukan dari Chanyeol. Hmm mungkin aku salah, mungkin Chanyeol tidak marah kepadaku. Aku menatap keluar jendela, ke arah taman dimana kami biasa bermain. Lalu pandanganku tertuju pada pohon besar diseberang sana. Terlihat sebagian ujung dahannya. Itu tempat rahasiaku dan Chanyeol. Tiba-tiba saja aku ingin kesana. Aku segera beranjak dari kasur dan memakai hoodie ku dan keluar rumah menuju ke pohon itu.

Hari memang sudah sore. Matahari hampir terbenam. Kata Chanyeol matahari terbenam sangat indah disini. Aku segera memanjat pohon itu. Agak kesulitan memang. Mungkin karena Chanyeol tidak membantuku menaikinya. Dengan susah payah akhirnya aku berhasil menaiki pohon itu. Aku duduk di salah satu dahannya dan duduk bersandar pada batang pohon disebelah kananku. Menunggu matahari itu terbenam pelan-pelan.

Tanpa sadar aku menangis. Matahari terbenam itu tidak terlalu bagus seperti yang Chanyeol bilang. Mungkin karena Chanyeol tidak ada disini.

Aku merindukan Chanyeol..

“Indah bukan?”

Aku tersentak kaget. Buru-buru menghapus air mataku. Ada suara dari dahan di sebelah batang pohon yang ku sandari. Lalu Chanyeol mengintip ke arahku. Aku balas menatapnya.

“Hai” Chanyeol tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapi.

Sejak kapan dia ada disini?

Berbeda dengan saat dia masih kecil, dulu giginya ompong. Chanyeol telah berubah menjadi pria yang sangat tampan sekarang. Chanyeol cukup populer di sekolah. Dengan badannya yang tinggi atletis, mata besar, hidung mancung, rambut kecoklatan, dan mulutnya yang selalu tersenyum, cukup baginya untuk menjadi seseorang yang sangat disukai orang-orang. Teman-teman benar. Chanyeol memang sangat tampan.

“Eh.. Hai..” Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah sepatuku. Kemudian mengayun-ayunkan kakiku salah tingkah. Mukaku memanas. Jantungku berdegup kencang. Aku kenapa?

“Pohon ini sudah tumbuh semakin besar, ya. Sama seperti kita” ucap Chanyeol ikut memandang matahari terbenam itu.

“I.. iya.” Aku bingung harus membalas apa. Kemudian aku merasakan dahan pohon ini bergerak. Aku tersentak. Tiba-tiba saja Chanyeol duduk di sebelahku.

Eh?

“Maaf soal yang dulu itu, aku tidak bermaksud seperti itu.” Ucap Chanyeol pelan.

“Tidak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf. Aku terlalu berlebihan.” Aku menatap Chanyeol sambil tersenyum.

“Maaf membuatmu menangis.”

Eh? Dia tahu aku menangis?

Aku segera memandang Chanyeol dengan muka bertanya-tanya.

“Tak perlu bertanya aku tahu dari mana, aku tahu. Maaf Yara.. aku tidak akan mengulanginya lagi” jawab Chanyeol seolah membaca pikiranku.

“Tidak apa-apa, Chan” aku menjawabnya sambil tersenyum. Chan, itu panggilanku pada Chanyeol selama ini. Khusus dariku, dan tidak ada orang lain yang memanggilnya seperti itu. Aku memandangnya, kemudian merasa muka Chanyeol pucat. Apa dia sakit?

“Apa kau sakit, Chanyeol? Mukamu pucat.” Tanyaku khawatir.

“Ah.. tidak. Aku baik-baik saja. Mungkin ini efek sinar matahari itu, ehehe.” Chanyeol menjawab terkekeh. Aku balas tersenyum. Tiba-tiba saja Chanyeol menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Chan?” tanyaku kaget.

“Hmm? Aku mengantuk, Yara. Biarkan seperti ini dulu sebentar..” Chanyeol menjawab dengan mata terpejam.

“Ah.. iya baiklah.” Jantungku berdegup semakin keras. Aku kenapa, sih? Aku mengambil nafas dalam-dalam. Berusaha meredamkan degup jantungku yang tidak karuan ini. Aku takut Chanyeol mendengarnya. Serius. AKU KENAPA?

Dan kami terus berada disana sampai matahari terbenam seluruhnya.

***

“Aku akan mengajarimu cara berteman.” Ucap Chanyeol tiba-tiba. Saat itu kami sedang berjalan kaki bersama ke sekolah.

“Eh?”

“Kali ini kau tidak boleh menolak, Yara.” Jawab Chanyeol menyeringai.

Lalu Chanyeol menarik tanganku, berlari menuju gerbang sekolah yang sudah kellihatan di depan sana.

***

“Ah! tempat pensilku ketinggalan!” ucap gadis di meja sebelah kiriku. Namanya Luna.

“Bagaimana bisa kau lupa membawanya?” ucap gadis di sebelahnya, namanya Seohyun.

“Mungkin ketinggalan di atas meja belajarku semalam saat aku belajar. Duh, bagaimana ini?” ucap Luna khawatir.

“Aku hanya membawa satu bolpen, Luna. Maaf. Kalau aku membawa lebih aku akan meminjamkannya padamu.” ujar Seohyun ikut khawatir. Padahal hari ini pak guru akan memberikan ulangan bahasa inggris. Tiba-tiba saja aku juga khawatir pada Luna. Aku menggenggam kotak pensilku erat.

“Pinjamkan padanya bolpenmu..” bisik Chanyeol.

“Eh?” sahutku.

“Kau membawa bolpen lebih kan? Pinjamkan satu padanya.” Jawab Chanyeol sambil tersenyum.

“Kenapa tidak kau saja?!” jawabku jengkel.

“Sudahlah, lakukan saja!” Chanyeol mendorong tubuhku menghadap Luna. Lalu aku kikuk menatap luna. Begitu pula Luna.

“Eh.. kau mau kupinjami bolpenku? Aku membawa lebih..” Aku bertanya padanya sambil tersenyum kikuk.

“Bolehkah?” tanya Luna sambil tersenyum juga.

“Mm hm.” Aku mengangguk. Buru-buru kuambil bolpenku di kotak pensil lalu kuberikan pada Luna.

“Terima kasih, Yara!” jawab Luna sambil tersenyum lebar. Aku balas tersenyum.

“Nah, mudah kan?” bisik Chanyeol lagi.

“Eh? Apa?” tanyaku bingung.

“Mudah kan, mencari teman. Lagipula aku tahu kau bukan orang jahat. Kau hanya harus berhenti menutup diri, Yara.” Jawab Chanyeol tersenyum. Aku segera mengalihkan pandangan ke arah kotak pensilku. Aku gugup kalau Chanyeol memandangku seperti itu. Jantungku berdegup kencang lagi. AKU INI KENAPA?

Untung saja Pak Guru segera masuk kelas.

“Nah, anak-anak. Siapkan alat tulis kalian. Harap tenang, ulangan bahasa inggris akan segera dimulai!”

***

Sore itu sepulang sekolah, seperti biasa kami membeli Chocolate Bubble Tea di cafe dekat perumahan kami. Kami duduk di bangku taman sejenak. Chanyeol sibuk bermain rubik, aku sibuk bermain dengan PSP ku.

“Chan..” aku menoleh memanggilnya. Panggilanku terputus saat melihat darah keluar dari hidung Chanyeol. Sepertinya Chanyeol tidak menyadari ini dan terus bermain rubik.

“Chanyeol!” aku berteriak. Tanganku menjatuhkan PSPku, memegang pipinya. Chanyeol menghentikan bermain rubiknya dan menatapku heran. Mukanya sangat pucat.

“Kau.. kau berdarah! Kau harus segera ke rumah sakit! Mukamu pucat! Apa kau sakit? Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit? Kau sakit apa?!” aku meracau tidak jelas karena panik. Chanyeol juga jadi panik karena melihatku. Dia mengusapkan tangan ke bawah hidungnya. Ada darah disana.

“A.. aku.. aku tidak apa-apa. Mu.. mungkin hanya karena kelelahan.” Chanyeol menjawab terbata.

“Ayo! Kau harus segera ke rumah sakit!” aku menarik tangannya, mengajaknya pulang lalu aku akan mengantarnya ke rumah sakit.

“Tidak apa-apa, Yara.. mungkin aku hanya kelelahan.” Ujar Chanyeol pelan lalu mengambil PSP yang kujatuhkan.

“Tapi kau tetap harus segera pulang!” aku masih panik. Bagaimana bisa dia bersikap santai seperti itu?

“Iya, baiklah.. tenanglah dulu, Yara. Ehehe” Chanyeol masih terkekeh. Aku menggeleng-gelengkan kepala terheran dengan sikapnya. Kemudian segera menarik tangannya untuk pulang ke rumah.

***

“Apa kata dokter?” tanyaku khawatir. Aku sedang mampir ke rumah Chanyeol untuk menyelesaikan PR besok. Kami selalu bergantian mampir ke rumah masing-masing untuk menyelesaikan PR. Hati ini giliran rumah Chanyeol.

“Tidak apa-apa. Kata dokter aku hanya kelelahan. Aku hanya perlu istirahat sebentar dan minum obat. Ehehe.” ucapnya terkekeh. Chanyeol menolak saat aku meminta mengantarkannya ke Rumah Sakit. Dia bilang akan pergi dengan kakeknya. Selama ini Chanyeol memang hanya tinggal dengan kakeknya sejak orangtuanya meninggal.

Aku hanya mengangguk mendengarnya, dan melanjutkan mengerjakan PR. Sampai kemudian aku melirik ke arah Chanyeol, dan menemukan wajahnya sedang murung. Pasti ada sesuatu.

***

Hari ini Chanyeol tidak masuk. Katanya ada sesuatu yang harus diurus. Sikap Chanyeol akhir-akhir ini sangat aneh. Dia jadi sedikit pendiam. Aku takut sesuatu terjadi pada Chanyeol.

“Mau ikut ke kantin, Yara?” Sulli datang menghampiriku. Dibelakangnya ada Luna dan Seohyun. Aku memandangnya sebentar.

Chanyeol benar. Mungkin ini sudah saatnya membuka hati pada orang lain.

Kemudian aku tersenyum mengangguk. Lalu Sulli menggandeng tanganku mengajakku menuju ke kantin.

***

“Benarkah? Kau ke kantin hari ini dengan Sulli, Luna, dan Seohyun?” Chanyeol menatapku antusias. Aku hanya mengangguk sambil memainkan ujung bajuku.

“Aaaa Yara! Aku tahu kau bisa melakukannya!” tiba-tiba saja Chanyeol memelukku erat. Aku kaget. Kemudian Chanyeol melepaskan pelukannya masih sambil tersenyum lebar. Mukaku memanas.

“Chan..”

“Menyenangkan bukan, mempunyai teman? Lagipula mereka orang-orang baik. Aku tahu kau bisa segera akrab dengan mereka. Kau hanya perlu membuka hati dengan orang-orang lain. Jangan takut untuk percaya dengan siapapun.” Chanyeol menatapku sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku yang salah tingkah diperlakukan seperti itu hanya mengalihkan mukaku sambil mengayun-ayunkan kakiku.

“Aww, Yara! You are so cute!” Chanyeol mengacak-acak rambutku. Mukaku semakin memanas, aku tahu mukaku pasti sangat merah. Aku tidak berani menghadap Chanyeol. Jantungku berdegup sangat kencang.

Jangan berkata seperti itu, Chanyeol! Atau aku akan membunuhmu!

***

“Itu namanya cinta, Yara.”

“Hah?”

“Muka memerah, jantung berdebar kencang saat kau didekatnya atau memandang matanya, hal-hal seperti itu. Itu namanya cinta, Yara.” Kata Sulli sambil tersenyum polos.

“Tapi..”

“Siapa yang kau cintai?” Sulli menatapku sambil tersenyum jahil.

“Ah, bukan! Bukan aku! Kan aku sudah bilang ada temanku yang bertanya seperti itu, tapi karena aku tidak tahu makanya aku bertanya padamu. Jangan salah paham.” Aku mengelak. Tapi Sulli pasti tahu aku bohong. Teman siapa yang aku punya?

“Ahaha, baiklah. Kau lucu sekali, Yara. Oh iya sebentar lagi liburan musim panas dimulai. Kau mau liburan kemana?” tanya Sulli sambil menyapu. Hari itu tugas kami piket.

“Mmm, entahlah.” Aku menjawab sekenanya.

Tentu saja menghabiskan waktu bersana Chanyeol.

Diam-diam aku tersenyum. Sulli menyadari hal ini, kemudian tertawa renyah.

“Apa?”

“Tidak apa-apa. Kau benar-benar lucu, Yara.” Jawab Sulli masih sambil tertawa.

Aku mengendus pelan lalu memukul lengan Yara. Kemudian kami tertawa bersama.

(Di balik pintu, Chanyeol mengamati mereka sambil tersenyum)

***

KRIIIINNGGGG!!

Bel menjerit menandakan pelajaran hari ini selesai, sekaligus awal liburan musim panas yang berharga ini.

“Baiklah anak-anak, pelajaran kali ini selesai. Besok kalian telah memulai liburan musim panas kalian. Jangan lupa mengerjakan PR yang diberikan. Mengerti?”

“Mengerti pak guruuu!” jawab kami. Sorak sorai bergembira menyambut liburan musim panas. Tak ada yang lebih menyenangkan selain liburan musim panas. Apalagi jika bersama Chanyeol. Aku tak sadar tersenyum-senyum sendiri.

“Yara, berhentilah tersenyum seperti itu. Kau seperti orang gila. Ayo kita pulang!” Chanyeol menyenggolku dengan sikunya. Aku menatapnya kesal. Kemudian aku menarik tangannya dan berlari keluar gerbang sekolah dengan berbagai pikiran melayang-layang di otakku.

***

“Aku mau pergi, Yara.” Jawab Chanyeol sambil menunduk, saat aku bertanya padanya kemana dia akan menghabiskan liburan ini.

“Kemana? Aku boleh ikut?” tanyaku sambil berlompat-lompat antusias, membayangkan tempat mana yang akan kami datangi.

“Tidak.” Jawab Chanyeol. Tegas. Aku langsung diam. Liburan tanpa Chanyeol? Membayangkannya pun aku tidak bisa. Aku menatapnya, masih diam. Berusaha mencerna apa yang terjadi barusan.

“Kau.. mau kemana?” tanyaku pelan.

“Aku tidak bisa memberitahumu.” Chanyeol menunduk. Chanyeol tidak pernah memperlakukanku seperti ini.

“Berapa lama kau akan pergi?”

“Aku juga tidak bisa memberitahumu..” Chanyeol masih menunduk. Tiba-tiba saja aku benci pada Chanyeol. Aku benci pada Chanyeol yang seperti ini.

“Bodoh” aku berkata seperti itu kemudian berjalan menjauhinya. Chanyeol tidak menghentikanku. Itu membuat hatiku serasa di iris-iris. Mataku perih. Ini bukan Chanyeol yang bisasanya.

***

Ini sudah seminggu sejak Chanyeol mengabaikanku. Aku duduk di kursi taman, tempat aku dan Chanyeol biasa menghabiskan waktu bersama. Seminggu aku menghabiskan liburanku dalam diam, menunggu Chanyeol di kursi taman ini. Bahkan aku menolak ajakan Appa dan Eomma untuk berlibur di Bali. Aku ingin bersama Chanyeol. Diam-diam aku memikirkan kata-kata Sulli. Apakah aku mencintai Chanyeol? Aku sendiri tidak tahu. Tapi tidak ada alasan bagiku untuk membencinya. Chanyeol yang baik, ramah, selalu mengajakku kemanapun dia pergi, dan tidak pernah membiarkanku sendirian. Sejak Chanyeol menyelamatkanku dari sungai itu, aku tidak pernah terpisahkan oleh Chanyeol. Mungkin Chanyeol adalah hadiah dari Tuhan yang diberikan padaku. Hadiah terindah di ulang tahunku yang ke enam. Hadiah terindah yang kudapat seumur hidupku. Chanyeol tidak bisa dibandingkan dengan Teddy Bear Eomma, Chocolate Bubble Tea terenak di dunia, maupun orang lain di dunia ini. Chanyeol spesial. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Mungkin Sulli benar. Mungkin aku mencintai Chanyeol. Tidak, bukan mungkin. Aku memang mencintai Chanyeol. Aku menutup mataku rapat. Menggenggam erat ujung bajuku.

Aku ingin Chanyeol disini sekarang. Aku merindukan Chanyeol. Akan kukatakan padanya aku mencintainya.

“Yara?” kudengar suara Chanyeol memanggilku. Aku masih menutup mataku erat. Apa aku terlalu merindukannya sampai aku berhalusinasi?

“Yah. Yaraaaa~” panggil Chanyeol lagi. Halusinasiku terlalu nyata, Tuhan. Ada apa denganku..

“Yara! Kau ini sedang apa?” aku merasa ada yang menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka mata.

“Chan?” ah ini bukan halusinasi! Chanyeol berdiri didepanku dan menatapku dalam.

“Bukankah kau sedang pergi ke suatu-tempat-yang-aku-tidak-boleh-tahu dalam jangka waktu yang aku-tidak-boleh-tahu-juga?” aku balas menatapnya.

Chanyeol semakin kurus, mukanya pucat. Dia tersenyum lemah, senyumnya tidak lagi bersinar seperti dulu.

Chanyeol kenapa? Apa Chanyeol sakit? Chanyeol pasti sakit. Kenapa dia tidak memberitahuku?

Kemudian Chanyeol duduk di sebelahku. Dia mengambil napas dalam-dalam. Tangannya menggenggam tanganku. Tangan Chanyeol kurus dan dingin, tidak lagi hangat seperti dulu.

“Chanyeol kau kenapa? Apa kau sakit? Mukamu pucat, kau semakin kurus. Apa kau tidak makan? Kau harus banyak ma..”

“Maaf Yara..” Chanyeol menatap mataku dalam.

“Kenapa? Kau tidak berbuat salah, Chanyeol. Apa yang harus dimaafkan?” Chanyeol aneh. Chanyeol sangat aneh. Chanyeol tidak pernah seperti ini.

“Aku sangat senang bisa mengenalmu, Yara. Sangat sangat sangat senang. Aku sangat senang bisa menyelamatkanmu di sungai waktu itu. Aku senang kita bisa bersahabat baik. Aku senang kau selalu ada di sisiku..”

“Berhenti berbicara aneh. Kau ini kenapa?” aku mulai khawatir.

“Aku menyesal pernah membuatmu menangis. Padahal aku sudah berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi. Tapi aku tidak menepati janjiku. Maaf… Aku juga pernah berjanji pada diriku sendiri akan menjagamu selamanya. Tapi..” aku tercekat.

Jangan dilanjutkan, Chanyeol.

“Aku takut aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku..”

Jangan! Jangan dilanjutkan!

“Aku harus pergi, Yara..”

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Aku tidak mau mendengar kelanjutan kata-kata Chanyeol.

“Yara, dengarkan aku..” Chanyeol menggenggam tanganku erat. Meletakkan tanganku ke pangkuannya. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menangis, membiarkan air mataku membasahi pipiku deras. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar tidak menangis di depan Chanyeol. Tapi aku sudah tidak kuat lagi..

“Yara, aku harus pergi. Aku tidak akan tinggal di rumah itu lagi.”

Aku menengadahkan mukaku, menatap Chanyeol dengan tatapan tidak percaya.

“Kemana? Berapa lama?”

“Aku tidak tahu Yara. Mungkin aku tidak akan kembali lagi. Aku akan berangkat besok, pagi sekali. Maaf Yara.. jangan menangis..” tangan lemah Chanyeol menghapus air mata di pipiku.

“Tapi kenapa?” Air mataku semakin deras.

“Aku tidak bisa bilang..”

“Katakan Chanyeol. Atau aku akan membencimu selamanya!”

“Kau pasti bisa bertahan tanpaku, Yara. Kau pasti akan punya banyak teman yang akan menolongmu, yang akan ada untukmu baik senang maupun sedih. Kau hanya perlu percaya pada mereka, Yara. Percaya bahwa mereka akan menjadi teman yang baik untukmu. Kau pasti bisa. Ya kan? Kau gadis kuat dan pemberani, Yara. Kau pasti bisa hidup tanpa aku.”

Aku menggeleng kuat. Kata-kata Chanyeol seolah menandakan dia akan pergi selamanya. Tidak! Chanyeol pasti akan pergi sebentar kan?

“Aku tidak mau percaya! Apa gunanya percaya pada orang yang akan menyakiti hatimu suatu saat nanti?!” aku memberontak.

“Semua orang pasti pernah sakit hati, Yara. Itu justru akan membuatmu semakin dewasa dan belajar banyak hal. Kau mengerti kan?” Chanyeol menjelaskan padaku pelan-pelan.

“Tapi kau mau kemana? Kau pasti akan pulang lagi, kan? Aku akan menunggumu, Chan. aku pasti menunggumu sampai kau pulang!” aku menggenggam kausnya erat.

Kemudian aku melihatnya,dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Chanyeol menangis.

Jangan menangis, Chan! Itu hanya akan membuatmu terlihat lemah! Kau tidak boleh terlihat lemah! Chanyeollie ku tidak pernah lemah!

Aku mengusap air mataku. Masih terkejut dengan apa yang kulihat barusan.

“Chan.. jangan menangis..”

Tiba-tiba Chanyeol memelukku erat. Sangat erat seolah-olah jika dia melepaskannya aku akan pergi.

“Aku mencintaimu, Yara..” aku tercekat. Chan..?

Aku menangis semakin deras. Aku balas memeluknya erat. Harusnya kukatakan juga bahwa aku juga mencintainya, tapi yang terjadi hanyalah mulutku terbuka tanpa mengeluarkan suara apapun selain tangisan.

Aku juga mencintaimu, Chan. Sangat sangat  mencintaimu lebih dari yang kau bayangkan.

“Aku.. juga.. mencintaimu.. Chanyeol..” akhirnya aku bisa mengatakannya. Meski hanya bisikan pelan, tapi aku yakin Chanyeol mendengarnya. Aku yakin dia tahu apa yang kurasakan meskipun aku tidak mengatakannya. Chanyeol lah yang paling mengerti ku. Hanya Chanyeol yang paling mengerti tentangku. Aku menangis deras di pundak Chanyeol sampai aku tertidur. Sesaat sebelum aku tertidur aku merasakan Chanyeol mengecup dahiku lembut.

***

Aku terbangun melihat sinar matahari menembus jendela kamarku. Aku mengambil jam alarm disamping kasurku. 11:24. HAH?!

Masih mengenakan piyama, aku berlari menuju lantai bawah. Ada paman Kwangsoo dan Bibi Minsoo disana.

“KENAPA TAK ADA YANG MEMBANGUNKANKU?” aku membentak mereka dengan marah.

“Ma.. maaf Nona Yara, tapi kau terlihat sangat lelah. Kami tidak berani..”

“AARGH!” aku membanting vas bunga kristal disampingku ke lantai. Aku segera berlari menuju pintu rumah. Tapi tanpa sengaja aku menginjak salah satu pecahan vas itu.

“Aw!” kulihat kakiku berdarah banyak. Aku tidak peduli. Sakitnya tidak lebih sakit dari perih di hatiku saat ini. Mengiris-irisnya hingga bagian paling dalam.

Bibi Minsoo panik. Kemudian berlari mengambil kotak P3K. Aku segera berlari pincang menuju pintu rumah. Aku membuka pintu dan dengan bertelanjang kaki berlari menuju rumah Chanyeol. Aku mendorong gerbang rumahnya dengan kasar.

“Chanyeol! Chanyeol-ah! Buka pintunya Chan!”

Tapi kemudian aku melihat rantai melilit gerbang rumahnya.

Chanyeol sudah pergi.

Aku segera terduduk, menangis keras. Paman Kwangsoo dan Bibi Minsoo berlari ke arahku dengan panik.

“Nona Yara, Nona harus kembali ke rumah, luka Nona Yara harus segera diobati..” Bibi Minsoo khawatir melihatku tetap menangis. Aku mengibaskan tangannya saat mencoba menyentuhku.

Aku mau Chanyeol. Aku cuma mau Chanyeol.

Kemudian Paman Kwangsoo menggendongku pulang. Aku menatap rumah Chanyeol sekali lagi. Kemudian menangis dalam diam.

Aku duduk di sofa rumah dengan lemah. Sarapan dari Bibi Minyoung tidak kusentuh. Aku menatap kakiku yang telah diperban Bibi Minsoo. Aku mengayun-ayunkannya pelan. Nyeri. Kemudian aku mengusap tengkukku pelan. Seluruh badanku terasa pegal. Kemudian aku merasakan sesuatu yang aneh.

Ada kalung di leherku?

Aku segera melepas kalung itu dan memperhatikannya. Kalung dengan rantai putih berliontin huruf C.

Ini punya Chanyeol. Chanyeol memberikannya padaku? Kapan?

Ah mungkin kemarin ketika di kursi taman. Mungkin Chanyeol mengenakannya padaku ketika aku tertidur.

Aku segera mengambil bantal sofa dan menimbunkan wajahku dalam-dalam.

***

Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah. Air mataku juga sudah kering karena selalu menangis. Tubuhku lemah karena tidak mau makan. Aku tidak lapar sama sekali. Aku sendiri juga tidak tahu mau masuk sekolah kapan. Buat apa sekolah kalau tidak ada Chanyeol di sampingku?

TINGTONG!

Suara bel berbunyi. Paman Kwangsoo membukanya. Aku menoleh penasaran siapa yang datang. Aku tidak pernah menerima tamu selain Chanyeol disini. Aku melihat kepala Sulli mengintip ke dalam. Ah itu Sulli, Sulli temanku. Aku tersenyum. Kemudian Sulli masuk, lalu disusul Luna dan Seohyun. Aku tersenyum lebar melihat mereka.

“Duduklah”. Aku mempersilakan mereka duduk disampingku. Mereka pun duduk.

“Kapan kau masuk, Yara? Kami merindukanmu.” Kata Sulli sambil menepuk pundakku.

“Buat apa aku masuk sekolah kalau tidak ada Chanyeol.”

“tidak ada Chanyeol?” tanya Luna heran. Aku balas menatapnya.

Apa Chanyeol tidak memberi tahu mereka? Apa Chanyeol hanya memberitahuku?

“Kau tidak tahu? Chanyeol pergi. Dia pindah. Mungkin tidak kembali.” Jawabku datar.

Mereka saling bertatapan heran.

“Kemana?” tanya Sulli hati-hati.

“Entahlah, aku tidak ingin membicarakannya.” Jawabku datar pada Sulli.

“Ah, maaf Yara. Aku tau kau sangat dekat dengan Chanyeol. Maafkan aku kalau..”

“Sudahlah, tidak apa-apa.” Aku menjawab sambil tersenyum. Aku tidak suka ada yang memohon kepadaku. Memohon maaf atau apapun itu.

“Tapi kau masih punya kami, kan. Kami akan jadi temanmu juga.” Jawab Sulli sambil tersenyum. Pantas Sulli jadi ketua kelas, Sulli selalu bisa menenangkan hati orang lain.

Chanyeol benar. Masih banyak orang lain disekitarku yang akan jadi temanku, jika aku berani membuka hati untuk mereka. Kalau ada orang lain yang membuatku sakit hati, maka akan ada yang lain yang membuatku bangkit juga. Mereka pasti akan bersikap baik kalau aku bersikap baik pada mereka juga. Ah, kenapa aku baru menyadari ini sekarang..

Aku tersenyum menatap Sulli, kemudian dia merangkulku. Aku menangis lagi, entah dari mana aku mendapatkan air mata ini. Yang pasti, aku telah belajar sesuatu yang berharga sekarang.

***

“Kau lihat mukanya saat dia kaget tadi? Itu lucu sekali! Ahaha” Luna tertawa renyah mengingat-ingat kembali film yang kami lihat tadi. Kemudian kami ikut tertawa juga. Kami berempat, aku, Sulli, Luna, dan Seohyun telah menjadi teman dekat sekarang. Kami berjalan bersama menuju cafe terdekat. Seperti biasa aku membeli Chocolate Bubble Tea kesukaanku. Kemudian kami berpisah pulang. Rumah Luna dan Seohyun berbeda arah dengan rumahku dan Sulli. Kemudian aku dan Sulli berjalan berdua menuju rumah kami. Tapi langkahku terhenti sesaat setelah melihat mobil Mercedes Benz hitam lewat di depanku. Aku tersentak.

Itu mobil Chanyeol.

“Ada apa, Yara?” Sulli menatapku heran.

“Itu.. itu mobil Chanyeol.” Tunjukku terbata. Sulli juga kaget mengikuti arah jariku. Kemudian aku berlari mengejarnya.

“Yara! Tunggu!” kemudian Sulli berlari mengikutiku dibelakang.

Aku terhenyak saat tahu dimana mobil itu berhenti. Ini.. makam. Supirnya membukakan pintu mobil itu. Kemudian seseorang keluar dari mobil itu membawa sebuah buket bunga. Itu kakek Chanyeol. Siapa yang kakek Chanyeol ziarahi? Tapi perasaanku mulai tidak enak. Aku menunggu Chanyeol keluar dari mobil itu juga tetapi supirnya segera menutup mobil itu dan berdiri di samping mobilnya. Kemudian kakek Chanyeol berjalan masuk. Aku mengikutinya. Sulli mengikutiku dibelakang.

Aku menjerit saat tahu makam siapa yang kakek Chanyeol kunjungi. Aku dengan sangat jelas melihat foto di atas pusara itu. Seseorang yang sangat aku kenal dengan rambut kecoklatan, mata bersinar, dan senyum lebarnya memperlihatkan gigi-giginya.

Itu Happy Virusku. Chanyeolku.

Kakek Chanyeol segera menoleh kearahku. Sulli yang kaget juga menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Yara?” kakek Chanyeol menyebut namaku perlahan. Aku mengabaikannya, dan berjalan mendekati pusara Chanyeol. Badanku gemetaran. Air mataku tiba-tiba mengalir. Aku jatuh terduduk didepan makam Chanyeol. Aku meremas rumput disekitarnya. Kepalaku menggeleng.

“Bohong.. Bohong kan! Ini bukan Chanyeol kan!” teriakku pada kakek Chanyeol. Aku tahu ini tidak sopan. Tapi aku ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Aku telah dibohongi.

“Maaf, Yara.. sebenarnya Chanyeol menderita leukimia stadium akhir. Saat mengatakan kepadamu dia akan pergi, aku membawanya ke Singapura untuk berobat. Chanyeo dirawat dua minggu disana. Tapi dokter tidak bisa menolongnya. Chanyeol.. Chanyeol tidak bisa diselamatkan. Jadi aku membawa jasadnya pulang kemari agar bisa kukunjungi setiap saat. Maaf Yara..” kakek Chanyeol berlutut mendekatiku dan mengusap punggungku pelan.

“Yara..” Sulli juga menghampiriku, kemudian menggenggam tanganku menenangkanku.

“Dia.. tidak bilang apa-apa?” Aku masih shock dengan apa yang kulihat. Pantas saja Chanyeol pucat dan semakin kurus. Firasatku benar, Chanyeol sakit. Tapi kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?!

“Dia.. menulis surat untukmu. Dan memintaku menyerahkannya padamu saat kau sudah tahu tentang ini.” Kakek Chanyeol menyerahkan sepucuk amplop kepadaku. Aku menoleh pelan dan menerimanya. Segera kubuka surat itu.

Untuk: Yara

Yara-ah! Bagaimana kabarmu? Maaf karena tidak memberitahumu apa yang terjadi sebenarnya. Karena aku tidak ingin melihatmu sedih lagi. Aku lebih baik melihatmu marah kepadaku daripada sedih karenaku. Kau mau memaafkanku kan?

Ah, iya. Aku kena leukimia. Kau benar, aku sakit. Maaf Yara karena telah berbohong padamu.

Kau tahu kan, kau lah sahabat terbaik yang pernah aku punya. Kau selalu ada disisiku setiap saat, menemaniku dalan susah maupun senang. Terima kasih Yara, karena kau selalu ada untukku. Kau tahu? Kau lah semangat hidupku Yara. Setelah orangtuaku meninggal, aku sangat kesepian. Kakek lebih sering meninggalkanku untuk mengurusi bisnis keluar negeri. Sejak ada kau, aku tidak kesepian lagi, Yara. Terima kasih karena kau selalu ada.  

Tidak, Chanyeol. Bukan aku, tapi kau yang selalu ada untukku.

Maaf karena aku tidak bisa ada untukmu selamanya. Padahal aku telah berjanji akan selalu menemani dan menjagamu. Tapi aku tidak bisa. Kau sudah punya teman sekarang, bukan? Mereka juga akan ada untukmu, Yara. Terutama Sulli. Dia  orang yang baik, dia pasti akan jadi sahabat yang baik untukmu.

Ah,iya. Kalung itu untukmu. Kau tahu kan? Kalung berliontin C yang kukalungkan dilehermu itu. Itu adalah hadiah dari kedua orangtuaku. Mereka memberikannya padaku sesaat sebelum mereka meninggal. Itu adalah benda paling berharga yang aku punya. Dan aku ingin kau memilikinya. Aku tidak pernah melepaskan kalung itu sampai saat aku memberikannya padamu. Jaga baik-baik ya, Yara.

Mungkin aku sudah tidak ada didunia lagi sekarang, saat kau membaca surat ini. Tapi aku akan selalu hidup didalam hatimu dan mencintaimu selamanya, kau tahu itu kan?

Chanyeollie

Aku memeluk sura itu dan memejamkan mataku rapat-rapat.

Aku tahu itu, Yeollie.

***

4 bulan kemudian..

“Sulli, kau mau menemaniku nanti?” tanyaku hati-hati pada Sulli.

“Eh? Kemana, Yara?” tanya Sulli.

“Mmm, itu.. hari ini.. ulang tahun Chanyeol. Aku ingin memberikan penghormatan padanya.” Ujarku pelan sambil memainkan ujung baju seragamku. Sulli tersenyum mengerti.

“Baiklah, tapi bukankah lebih baik kau ajak teman-teman yang lain juga? Kita bisa memberikan penghormatan bersama-sama kan?” ucap Sulli.

“Ah, iya kau benar..” aku mengangguk setuju. Aku segera mengajak satu persatu teman-teman sekelasku yang lain dan mereka menyetujuinya.

***

Aku berjalan maju membawa buket bunga dan kutaruh di atas pusaranya. Memandang fotonya yang tidak pernah berhenti tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Chan. Lihat, aku membawa banyak teman. Kau pasti senang kan? Aku akan menemukan lebih banyak teman lagi untukmu. Lihatlah dari atas sana, kau sekarang tidak perlu khawatir lagi.” Aku berbisik pelan. Kemudian satu persatu teman-temanku yang lain maju dan menaruh bunga diatasnya.

Chanyeol benar, dia memang tidak hidup di dunia lagi sekarang. Tapi dia telah meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran bagi kami. Dia juga masih bisa hidup di hatiku selamanya. Aku tahu itu.

THE END

Advertisements

7 thoughts on “[FANFIC CONTEST] My Best Chanyeol #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s