[FANFIC CONTEST] 1st Winner “KIM HANA’S BRAND NEW DAY!”


FanFic Contest : #2 #3 #4 #5

KIM HANA’S BRAND NEW DAY!

Title                        : Kim Hana’s brand new day!

Author                   : Yellowcandy (twitter : @abcdedot)

Main Cast               :Oh Sehun, Kim Hana, Lee Jisuk

Length                    : one shot

Genre                     : Romance

Rating                     : PG-15

This story belongs mine, but Oh sehun doesn’t ;) I write down this fanfic to join “exo fanfic competition” and ready to be a winner and get the T-shirt! :) I’ve followed @EXOfficialINA and @WKpopersINA btw ;)

Hangatnya sinar matahari membangunkan Kim Hana, gadis dengan rambut coklat itu akhirnya membuka mata dan menggeliat pelan. Tubuhnya yang masih kaku kemudian dipaksa berjalan dengan langkah diseret menuju meja belajar untuk mematika lampu tidur, lagi-lagi ia menguap, kalau saja dia lupa hari ini dia akan kembali masuk sekolah, sekarang juga-pun ia akan kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya, Tapi… aigoo[1] Hana terpekik kaget memandang jam dinding micky mouse-nya, sudah hampir jam 7 dan dia baru bangun, belum mandi, belum sarapan, ya tuhan…

Dengan terburu-buru Hana mengambil handuknya, kemudian berlari menuju kamar mandi, sepertinya hari ini dia harus mandi dengan kekuatan super.

Pintu kamar mandi diketuk, Hana dengan cekatan mematikan shower yang mengucuri tubuhnya.

“honey.. kau masuk sekolah hari ini?” tanya mom

“iya mom, ah~ sarapanku… mm bisakah dimasukan ke kotak bekal saja? Aku sudah terlambat” jawab Hana dengan sedikit berteriak, dia tidak ingin mom-nya salah mendengar permintaannya.

“oke” jawab mom di balik pintu.

Hana menghembuskan napas pelan, ini hari pertamanya setelah absen 2 bulan, mana mungin dia ingin terlambat.

Kurang dari 10 menit Hana sudah selesai dengan segala urusannya, dia berlari menuruni tangga dari lantai dua dengan seragam rapi lengkap dengan gelang-gelang yang sering dipakainya. Mom berdiri sudah sigap tepat di bawah tangga, menunggu anak semata wayangnya turun dan memberinya kecupan sebelum berangkat –seperti kebiasaannya sebelumnya.

Hana memeluk dan mengecup Mom sekilas, berbisik di telinga wanita yang amat di hormatinya itu, “aku berangkat”

“tunggu, ini sarapan-mu” mom mengingatkan hana sambil mengacungkan kotak bekal di tangan kanannya.

Hana berbalik kemudian tersenyum, “ah~ hampir saja lupa”

Dia memang selalu lupa hal-hal kecil seperti itu, sekarang saja, kalau Lee dong sik ahjussi –supirnya – tidak mengingatkan untuk naik mobil pribadi, dia pasti sudah lari terbirit-birit menuju halte yang jaraknya beberapa meter dari rumah. Ya, dia lupa kalau mulai hari ini dia tak akan lagi naik bis, tidak akan lagi sendiri, mom yang tidak mengizinkannya, tidak setelah kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya dua bulan lalu.

Hari itu seperti biasa Hana pulang agak larut menggunakan bis terakhir menuju kompleks perumahannya, seperti biasa pula Hana menjadi penumpang terakhir bis itu –karena memang rumahnya adalah tempat halte terakhir. Sebelumnya Hana tak menemukan keganjilan apapun pada bis itu, tapi setelah setengah perjalanan, barulah Hana merasakannya, bis yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tak sewajarnya bahkan beberapa kali hampir menabrak pembatas jalan atau mobil lain di depannya. Hana yang gelisah berniat turun di halte berikutnya, tapi sebelum dia sampai di halte berikutnya, bis yang ditumpanginya menabrak sebuah mobil kemudian menghantam tiang di trotoar. Hana yang merupakan satu-satunya penumpang selamat –tapi mengalami keadaan kritis karena tubuhnya menghantam sesuatu entah apa yang tajam – sedangkan si supir yang ternyata mabuk meninggal dunia di tempat.

Hana dilarikan ke rumah sakit saat itu juga, dan langsung mendapat perawatan medis karena Hana mengalami koma. Hampir 5 hari Hana terbaring tak sadarkan diri, padahal saat itu ginjalnya harus segera di angkat karena kalau tidak akan mengalami kebusukan. Kakinya pun tak bebas dari pisau operasi, beberapa tulang kakinya patah dan diganti dengan pen, itulah kenapa dia membutuhkan waktu yang lama untuk bisa kembali seperti semula.

“nona.. sudah sampai” suara supir memutus lamunannya. Hana mengerjapkan mata, kemudian tersenyum melihat bangunan sekolahnya dihadapan mata. Bagaimana keadaan sekolahnya setelah 2 bulan dia tinggalkan? Batinnya bertanya-tanya.

Ternyata dia belum terlambat, pintu gerbang sekolahnya masih terbuka lebar, dan beberapa siswa masih di luar gerbang –seperti dirinya.

“Hana-ya~” suara cempreng khas Jisuk sahabatnya terdengar olehnya. Hana mengikuti arah suara dan terlihat olehnya Jisuk sambil melambai-lambaikan tangan juga tersenyum lebar berdiri tak jauh darinya. Ah~ sudah sangat lama, dia merindukan.. sangat merindukan sahabatnya ini.

Setelah mengucap terimakasih pada supirnya –dan meminta menjemputnya jam berapapun hana mau – dia berlari tak sabaran ke arah jisuk, lalu menghambur memeluknya.

“aigoo.. kau sudah bisa lari rupanya” canda Jisuk setelah melepas pelukannya.

“geureom[2], aku bahkan sudah boleh menari” jawab Hana bangga

“jeongmal[3]?”mata jisuk membulat, Jisuk pernah mendengar dari ibu Hana kalau hana tidak akan menari lagi, tapi Hana mengatakan sebaliknya hari ini. Aigoo.. betapa senangnya dia.

“tentu saja tidak” Hana tertawa, merasa berhasil mengagetkan temannya itu meski dia, jauh dilbuk hatinya, menginginkan hal itu benar-benar nyata. Tapi tidak apa-apa, lagipula menari bukan satu-satunya keahlian yang dia miliki, meskipun menjadi penari professional adalah mimpi yang ingin dicapainya.

“aish.. kau ini” jisuk menjitak kepala Hana pelan, “padahal aku sangat senang mendengarnya” gerutu Jisuk.

Hana masih terkekeh, kemudian keduanya berjalan menuju kelas.

“jisuk-ah bagaimana keadaan sekolah selama ku tinggal? Baik-baik saja kan?” tanya Hana setengah bercanda saat melewati koridor utama, kelas mereka berada dilantai 2, Cukup melelahkan bagi hana yang baru saja sembuh.

“kau pikir akan terjadi sesuatu yang besar saat kau tidak ada? Huh~” timpal jisuk, dia memang selalu tahu mana pertanyaan serius dan mana yang tidak.

Hana tertawa membayangkan sekolahnya tiba-tiba saja kebakaran atau kejadian besar lainnya. Dia memang selalu berimajinasi berlebihan.

“yaaa kan bisa saja terjadi sesuatu, seperti –

Ucapannya terpotong, mereka sudah sampai dikelas tapi ada sesuatu yang menganggu penglihatannya.

Jisuk mengikuti pandangan Hana dan langsung mengerti, “ah~ itu.. aku lupa menjelaskan padamu”

Hana masih bengong dan tidak berniat menanggapi ucapan Sahabatnya itu.

“Hana-ya, bukan aku yang meminta orang baru itu duduk disana” Jisuk mulai panic melihat hana tidak bereaksi sedikitpun. Mata Hana terus terfokus pada orang baru yang kini duduk di tempat duduknya dulu, bukan karena dia tersinggung tempat duduknya di tempati orang lain, bukan karena jisuk duduk dengan orang lain selain dirinya, tapi karena dia sedang mengingat-ingat siapa laki-laki itu, dia merasa pernah bertemu dengannya.

“hana-ya~” jisuk menggoyang-goyangkan bahu hana, dan barulah dia sadar dari lamunannya.

“ye[4]?” Hana menoleh pada jisuk dan dibalas tatapan heran gadis itu, “ya~ kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, gwenchana[5]” Hana menepuk bahu jisuk pelan, membuat jisuk makin terheran-heran.

“tapi kau hutang cerita padaku” bisik Hana sebelum akhirnya masuk kelas dan disambut teman sekelasnya, berpelukan, bersalaman, dan saling menanyakan kabar. Gadis itu tak tahu ada seseorang di kursi paling belakang tersenyum setelah memandangnya.

Tidak ada yang melihat kecuali jisuk, iya jisuk melihatnya, melihat teman –baru – sebangkunya itu tersenyum entah karena apa. Dan tahu apa? Itu pertama kalinya jisuk melihat orang aneh itu tersenyum, ternyata dia sangaaat tampan saat tersenyum, pantas saja banyak yang mendekatinya akhir-akhir ini pikir jisuk.

Tanpa menghiraukan acara sambutan untuk Hana sahabatnya –karena dia-pun sudah melakukannya tadi sebelum mereka – jisuk melewati kerumunan itu dan duduk di bangkunya sambil sesekali tersenyum haru melihat teman-teman sekelasnya begitu baik memperlakukan Hana, yaa hana memang orang yang pantas untuk diperlakukan seperti itu, sangat pantas.

“itu temanmu yang kau bilang hampir sekarat?” tanya seorang namja[6] disampingnya. Jisuk terkaget-kaget dibuatnya, mengingat itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan murid baru itu padanya –setelah beberapa waktu lalu dia meminjam bolpoint miliknya – padahal mereka sudah bersama (menjadi teman sebangku) sebulan lamanya. Belum lagi pertanyaan yang dia ajukan, selama ini jisuk tak pernah menceritakan tentang Hana pada laki-laki ini, bagaimana dia tahu?

Setelah bengong beberapa detik, akhirnya jisuk menjawab. “nde[7], ah-ya bagaimana kau tahu?”

Laki-laki itu mendengus pelan, “tentu saja aku mendengar ceritamu”

Aah tentu saja, jisuk memang tidak pernah secara langsung bercerita pada laki-laki – bernama Oh Sehun – ini tapi dia setiap hari bercerita pada teman-teman yang lain, yang tentu saja bisa didengar Sehun.

Setelah jisuk ber-oo pelan, pembicaraan terhenti. Sehun terlihat sibuk dengan headphone-nya, meski kemarin dia di tegur Kim Seonsaemnim karena hal itu, tapi tampaknya dia tidak peduli.

Tak bisa dipungkiri, jisuk merasa bersalah pada Hana, lihat saja sekarang, gadis itu –sahabatnya itu – duduk sendiri di bangku paling belakang yang sama dengannya tapi di sisi yang berbeda, kalau bukan karena orang baru ini, sudah pasti sekarang Hana duduk dengannya dan akan menggosip ria –seperti biasa – di pelajaran bahasa seperti sekarang.  yaa meskipun sekolah Seni, mereka masih tetap mendapat pelajaran-pelajaran umum.

Jisuk kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikan pesan untuk Hana.

“setelah ini kita ke kantin ;)”

Sent

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan balasan muncul di layar ponselnya.

“tentu saja, kau ingat? Kau hutang banyak cerita :smirk: “

Jisuk praktis menolehkan kepala ke arah hana, yang ternyata gadis itupun sedang menoleh padanya, lalu mereka berdua-pun tersenyum geli satu sama lain. Geli karena biasanya mereka tidak perlu berkirim pesan untuk sekedar mengobrol.

Akhirnya pelajaran bahasa selesai, jisuk meregangkan otot-ototnya yang tegang karena harus duduk mendengarkan ceramah 2 jam dari saem-nya –biasa dia melewati pelajaran ini dengan cepat karena mengobrol dengan Hana.

Beruntung sekarang hari jumat, karena jadwal kelas umum mereka berhenti sampai jam 9.30 dan hanya tinggal menunggu untuk kelas khusus,  jadi mereka bisa pergi kemanapun terserah mereka asalkan datang pada jam 01.00 PM di kelas khusus. Sekolah ini memang punya system pembelajaran yang berbeda, pukul 7.30-12.00 mereka diharuskan mengikuti kelas umum, mendapatkan pelajaran-pelajaran yang sama seperti sekolah umum lainnya, dan pada pukul 1.00 – 08.00 (bahkan bisa sampai larut) mereka mengikuti kelas khusus seperti kelas tari, suara, musik, dan acting. Khusus untuk kelas khusus, murid bisa memilih kelas apapun yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Murid lain sudah berlarian entah kemana dan tinggal mereka  berdua (hana dan jisuk)di kelas ini.

“kantin?” tanya jisuk, hana hanya mengangguk, “kkajja[8]” lalu mereka melenggangkan kaki menuju tempat favorit semua murid disini, kantin.

Kantin seoul art school memang bukan kantin sembarangan, tempat ini lebih menyerupai food court mall ternama karena tempatnya yang mewah dan eksklusif –dengan makanan beragam dan harga cukup errr mahal – dibandingkan kantin sekolah umumnya. Pada jam seperti ini suasana kantin masih lenggang, karena kebanyakan murid masih berkutat dengan pelajaran umum, dan kebetulan hanya beberapa kelas yang memiliki jadwal unik seperti kelas jisuk.

Jisuk mengedarkan pandangan, kemudian matanya tertuju pada bangku favorit dia dan hana, sebuah sofa merah marun di pojok ruangan, sebenarnya, hanya orang-orang elit yang duduk di daerah sana, dan tentu saja mereka berdua termasuk “orang-orang” itu.

Hana mengeluarkan bekal sarapannya –seperti kebiasaannya dulu, ternyata masih belum berubah– dan jisuk sudah tak asing lagi dengan pemandangan itu, “aku pesankan minum ya” kata jisuk lalu menyerukan nama seorang pelayan dan memintanya membawakan 2 jus strawberry kesukaan mereka, hana hanya mengangguk-angguk dan sibuk dengan sarapannya.

“jisuk-ah” hana memulai pembicaraan, padahal menurut jisuk dialah yang akan bercerita tapi tidak apa-apalah, jisuk menaikan kedua alinya sebagai jawaban, mulutnya sedang berkonsentrasi menyeruput jus.

“aku akan pindah kelas” ucap hana, jisuk membulatkan mata, hampir memuncratkan minumannya kalau saja tidak buru-buru ia telan.

“mwo[9]?” tanya jisuk masih tidak percaya

“bukan kelas umum, kelas khusus” koreksi hana cepat

“waeyo[10]?” jisuk kembali bertanya dan sedetik kemudian menyesal mengajukan pertanyaan itu melihat wajah hana yang merengut sedih.

“hana-ya.. mianhe[11] aku tak –

Jisuk menghentikan ucapannya karena hana buru-buru menyela sambil tersenyum lebar. “tidak apa-apa, kau sudah tahu alasanku?”

Jisuk mengangguk, dia sangat tahu alasan sahabatnya itu. mana mungkin dia lupa, bukankah tadi pagi mereka sempat menyinggung hal itu?

“lalu..” jisuk menyeruput jus-nya untuk mengurangi rasa tidak enaknya, “kau akan mengambil kelas apa?”

Hana mengerutkan kening seperti sedang berpikir dalam, padahal jisuk tahu dia hanya berpura-pura, “mmm tentu saja musik!” jawab hana riang

Tuhkan benar, jisuk yakin hana pasti sudah memikirkannya matang-matang sebelum mengatakan itu padanya, tapi mengapa musik?

“suaramu bagus, mengapa tidak kelas suara saja?” tanya jisuk penasaran

Hana terdiam beberapa saat, kemudian menjawab. “mendiang ayahku selalu ingin aku bermain biola” dia kembali menambahkan ”kalau kelas suara, aku harus tetap bisa menari. Tapi kalau kelas musik, aku masih bisa menyanyi”

Jisuk tersenyum nanar mendengar alasan sahabatnya itu, kagum plus prihatin, bagaimana dia harus menanggapinya?

Jisuk berdehem dua kali, “baiklah kalau itu keputusanmu, aku sebagai sahabat hanya bisa mendukungmu, dan ya aku bisa mengantarmu ke ruang secretariat”

Hana tersenyum riang, lalu memegang erat tangan jisuk, “kau memang sahabat terbaikku”

Kalau saja Hana tidak melihat si anak baru –yang dengan tanpa dosa telah merebut tempat duduknya – melenggang sendirian di kantin, ia pasti lupa dengan niatnya mendengar “hutang cerita” jisuk.

“jisuk-ah, kau pasti melupakan sesuatu” ucap hana sambil menyipit penuh curiga

Bukan menjawab, yang ditanya malah sibuk dengan minumannya.

“YA! Kau punya hutang jisuk!” kata hana lebih keras, jisuk menoleh, dia baru ingat hal itu. pantas saja dia merasa ada yang kurang batin jisuk.

Jisuk berdehem, lalu mulailah cerita si anak baru itu..

“namanya Oh Sehun, dia pindahan dari Paran High School. Kau tahu anak-anak paran terkenal jago apa?” Hana menggeleng pasrah, lalu jisuk melanjutkan. “mereka jago berkelahi! Dan kudengar dia termasuk orang yang jago itu. dia mengerikan, aku jadi tidak mengerti mengapa banyak yang menyukainya, kau tahu Cassandra Lee? Dia sedang mencoba mendekati sehun, tapi tidak di tanggapi, hiiii, mungkin dia homo atau apa” jisuk mengambil napas mengakhiri ceritanya.

“bagaimana kau bisa sebangku dengannya?” tanya Hana, dia selalu penasaran tentang hal apapun.

“itu karena Cho saem menyuruhnya, padahal aku sudah bilang itu tempatmu, tapi saem bilang Sehun bisa pindah kapan saja” jawab jisuk sambil bersungut-sungut.

“ooo, ah-ya apa dia menyenangkan?”tanya hana lagi

Jisuk menghela napas dalam-dalam, “tidak sama sekali, dia tak pernah mengajakku bicara baru tadi pagi saat kau datang kami mengobrol, itupun hanya sebentar, lagipula aku takut untuk mengobrol dengannya”

“ceritakan padaku” sela hana cepat

“dia hanya bertanya ‘apa dia temanmu yang hampir sekarat?’ hanya itu” jawab jisuk sambil menirukan gaya bicara sehun.

“tunggu, hampir sekarat? Kau bilang padanya aku hampir sekarat?” hana menyela dan kini dengan mata membesar tak percaya

“YA” jisuk menyentil keningnya dan memasang wajah sebal. “kau koma 5 hari bagaimana bisa aku tak menyebutnya hampir sekarat” jisuk diam lalu kembali melanjutkan. “lagipula aku tak pernah memberitahunya, mungkin dia mendengarku bercerita pada yang lain”

Hana hanya ber-oo ria, kemudian matanya kembali mengekor si anak baru – baiklah, namanya sehun – yang tengah duduk di bagian timur kantin, meskipun jauh dia masih bisa melihat segala gerak-gerik namja itu. tenyata Oh Sehun yang diceritakan jisuk memang mengerikan, lihat saja sekarang, pakaiannya mencuat kemana-mana, belum lagi rambut blonde-nya yang membuatnya terlihat sangat mencolok dibanding namja lain disekolah ini. Hmmm mukanya terlihat sangat cuek, sangat tidak peduli dengan lingkungan sekitar, bahkan tidak peduli saat Cassandra Lee –gadis paling popular beberapa bulan lalu – duduk disampingnya dan mengajaknya berbicara.

“lihat.. seperti yang kubilangkan?” jisuk setengah berbisik terdengar bangga karena informasinya benar.

hana mengangguk setuju, “aku jadi takut dekat-dekat dengannya”

hana melirik jam tangannya, sudah jam 11. “jisuk-ah, kau mau mengantarku sekarang? Ke Ruang sekretariat?”

jisuk bangkit mengikuti hana, “tentu saja, kkajja”

Setelah urusannya selesai dengan kesekretariatan, Hana bergegas menuju ruang kelas “barunya”, ia tak pernah tahu kalau pindah kelas itu pekerjaan yang rumit dan lama sekali, hh untung saja alasannya cukup kuat, lagipula dia pun tak akan pernah mau pindah kalau bukan karena keterbatasan yang dia miliki sekarang.

Kaki Hana mulai ngilu, perjalanan dari ruang sekretariat digedung 1 ke gedung musik tidaklah dekat, dia harus melewati lapangan outdoor, gedung tari dan gedung suara. Inilah yang dia maksud “keterbatasan”nya, jangankan untuk menari seperti dulu, untuk sekedar berjalan jauhpun kakinya ngilu luar biasa, tangan Hana menggapai-gapai tembok, ia lalu duduk dan meluruskan kakinya, tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang melewatinya, bukan waktunya untuk peduli kata Hana dalam hati.

Entah berapa lama Hana terduduk dengan posisi seperti ini, barulah setelah di rasa kakinya baik-baik saja, Hana kembali memantapkan hati untuk kembali berjalan.

Awalnya tidak terjadi apa-apa, Hana senang berada di kelas musik, karena orang-orang disini sangat ramah dan menyambutnya dengan baik, Apa karena Kim Hana memang populer – dia hampir menjadi finalis balet competition Internasional kalau saja kecelakaan itu tak pernah terjadi, dan semua orang tahu itu – atau karena mereka memang tulus baik hati padanya? entahlah.. yang jelas awalnya Hana merasa tidak salah memlih kelas, tapi kemudian, saat Mr. Jhonny mulai menjelaskan tentang piano dan seseorang mengetuk pintu menghentikan penjelasannya, Oh Sehun tiba-tiba muncul –yang tanpa berdosa masuk kelas tanpa sepatah kata-pun – membuat Hana kikuk dan mulai berpikiran mungkin dia salah memilih kelas.

Pikiran itu muncul tanpa bisa dicegah, padahal dia baru bertemu orang itu hari ini dan hanya tahu cerita tentangnya dari Jisuk, tapi mengapa dia merasa yakin kalau Sehun bukan orang baik? dia bahkan bisa meminimalisir rasa penasaran karena merasa pernah mellihat orang itu.

“oke kalian bisa istirahat setengah jam, terimakasih” Mr Jhonny menutup kelasnya, setelah ini akan ada guru lain yang memberi penjelasan lebih detail tentang piano.

Hana menggunakan waktu setengah jam-nya untuk berbicang-bincang dengan murid lain, mereka bilang harusnya materi hari ini bukan piano –karena ternyata piano adalah alat musik pertama yang dikenalkan – tapi karena ada dirinya dan sehun yang masih baru, Mr Jhonny mengulang kembali bahasan itu. setelah hana minta maaf karena merasa bersalah –tapi mereka meyakinkannya kalau mereka senang pelajaran hari ini di ulang – pengajar lain datang, membawa materi baru. Hana menghela napas panjang, mencoba melupakan kakinya yang berdenyut-denyut, hanya sebentar lagi Hana berusaha meyakinkan diri.

Akhirnya pelajaran hari ini selesai, Hana menghembuskan napas lega, lalu meluruskan kedua kakinya, mulai besok dia harus bisa menyesuaikan diri, pasti mudah!

Masih jam 6, dia masih bisa berlatih kalau dia mau, murid lainpun masih disini, bergantian memainkan piano karena disini hanya tersedia 12 big piano sementara murid tingkat 2 seperti dirinya berjumlah sekitar 40an.

Sebuah botol minum tiba-tiba bergoyang-goyang di depan mata Hana, dia menoleh kesamping kemudian kaget sekaget-kagetnya karena yang menyodorkannya air minum adalah si anak baru, Oh Sehun. Hana dengan sedikit ragu menerima pemberian air sehun –karena kebetulan dia haus sekali – lalu menegaknya. Sehun duduk disampingnya, kemudian memperkenalkan diri. “Oh Sehun” katanya

Hana menjawab dengan sedikit gelagapan. “Kim Hana”

“apa sakit sekali?” tanya sehun sambil sedikit menunduk, “eh?” Hana ber’eh’ pelan karena tidak mengerti.

Kemudian sehun mengoreksi, “kakimu. Apa sakit sekali?”

Hana agak kaget mendengarnya, diruangan ini hanya Sehun yang tahu dan mau menanyakan hal itu padanya, “ah eh.. tidak terlalu” jawab Hana. Bohong! Ini sakit sekali!

“kau berbohong, pasti sakit” timpal sehun. Sok tahu pikir Hana

“bagiamana kau tahu?” tanya Hana dengan matanya terpejam, dia sedang merasakan denyut ngilunya yang mulai berkurang.

“tentu saja, wajahmu transparan seperti plastik” jawab sehun datar. mereka berdiam cukup lama, sehun sibuk dengan headphone-nya sementara Hana mulai membereskan barang-barangnya, memasukannya kedalam tas. Hana ingin cepat pulang, ingin cepat berbaring dan tidur.

“kau mau pulang?” sehun bertanya dengan headphone masih menutup kedua telinganya, hana mengangguk pelan, percuma dia berbicara karena sehun sedang mendengarkan lagu, pasti.

“mau ku bantu?” tanya sehun lagi tapi kali ini Hana menggeleng cepat.

“YA! kau ingin pingsan ditengan jalan? Kalau kau mati siapa yang akan menemukanmu?” ucap sehun galak

Hana terdiam dan tidak mempedulikan perkataan sehun, dia hanya ingin cepat pulang, kalau pingsan? Toh Itu urusannya sendiri. Hana mengetik pesan untuk mom, meminta Lee ahjussi segera menjemputnya. Dia bergegas keluar gedung, tak peduli sehun menguntitnya dari belakang.

Saat ini jam 01.00 AM dan Hana masih saja terjaga, kakinya benar-benar bebal tak mau diajak kompromi, padahal tadi dia sudah minum obat dan melakukan terapi ringan seperti yang dipertintahkan dokter, tapi tetap saja, rasa sakitnya tak kunjung berhenti. Pikirannya menerawang entah kemana, namun tiba-tiba saja nama Sehun muncul dalam pikirannya. Baiklah, mungkin dia perlu mengoreksi hal-hal tentang si murid baru itu.

Hana mulai mengingat-ingat, Sehun tidak sepenuhnya mengerikan, dia cukup baik hati, juga peduli, yaa buktinya dia menawarkan untuk memberinya bantuan. Sehun juga mengajaknya mengobrol, dia cukup menyenangkan walau wajah dan nada suaranya datar. Lalu bagian mana yang kata jisuk mengerikan ya? Hana mulai ragu dengan pendapat sahabatnya itu. lho mengapa sekarang dia malah membahas lelaki itu? aish.. tidak penting.

Kini Hana mulai terbiasa dengan rutinitas barunya, dia tak lagi pulang larut, tak perlu lagi begadang untuk menghapal gerakan baru, dan satu lagi yang paling menyenangkan, dia tak pernah lagi bangun kesiangan. Yeay! Bagi hana itu adalah sebuah keajaiban, mengingat dulu dia paling sering terlambat dan berlari-lari dari halte menuju gerbang sekolah atau memohon-mohon penjaga gerbang untuk membukanya sekali saja untuknya. Persahabatannya dengan jisuk masih terjaga dengan baik, bahkan sekarang mereka sudah kembali duduk sebangku karena lama-lama sehun tidak tahan dengan jisuk dan suaranya yang cempreng. Hubungan pertemanannya dengan sehun juga membaik, hana dan sehun terbiasa mengobrol bersama setelah pelajaran kelas khusus selesai, mengobrolkan apa saja karena mereka tak pernah kehabisan topik.

Sekarang adalah hari ke-7 Hana kembali menjalani hari-harinya sebagai seorang murid, tak jauh berbeda dari hari sebelumnya, setelah kelas umum selesai Hana dan Jisuk bersantai di kantin dan membicarakan kejadian-kejadian tadi pagi. Berlanjut dengan kelas khusus yang selalu memberinya hal baru tentang musik. Kebetulan hari ini tak ada pengajar yang datang, jadi murid kelas musik bisa memainkan apa saja yang di inginkan. Hana melihat-lihat alat musik yang ada, tapi mengurungkan niat untuk bermain, jadi dia hanya duduk-duduk di kursi belakang.

“kau tidak main?” Hana tak lagi kaget dengan suara datar itu, kini justru dia tersenyum lebar menoleh pada dia sipemilik suara datar, sehun.

Hana menggeleng pelan, “kau saja yang main”

Sama dengan hana sehun pun menggeleng, “tidak mau, aku tak suka jadi pusat perhatian”

“kau seorang trainee kalau debut bagaimana? Kau harus terbiasa sehun” ucap hana. Sehun memang pernah bercerita kalau dirinya adalah seorang trainee di SM –sama seperti jong in partner hana di kelas tari – tapi dia tidak seperti jong in yang bisa berbaur, dia lebih pemalu dan menutup diri, masalah kepindahannya dari Paran-pun agar dia lebih bisa menguasai materi saat trainee.

“itu berbeda” jawab sehun pelan

Meskipun sudah sering mengobrol dan mulai tahu tabiat masing-masing Hana masih saja merasa canggung dekat laki-laki ini, belum lagi rasa penasarannya yang belum terjawab, karena semakin hari semakin dia yakin kalau dia pernah bertemu orang ini disuatu tempat, entah dimana.

“sehun-ah, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Hana setelah akhirnya memutuskan untuk menanyakannya saat ini.

“hm?” sehun menoleh dan menunjukan raut tidak mengerti

“apa kau pernah melihatku sebelumnya?” tanya hana lagi

Sehun tampak ragu-ragu, tapi akhirnya menjawab. “entahlah”

Hana merengut sebal mendengar jawaban sehun, dia sedang serius malah dijawab entahlah, menyebalkan sekali!

Sehun tertawa pelan, “kau jelek sekali” ejeknya

Hana mendengar ejekan sehun tapi justru dia ikut tertawa bersamanya, sangat jarang melihatnya tertawa, ternyata kalau tertawa seperti ini sehun jadi terlihat lebih manusia :))

Tapi kemudian tawanya berhenti dan wajahnya kembali acuh seperti semula, “bosan, keluar yuk?” ajaknya

Hana masih diam, tapi kemudian berkomentar sekaligus memberi pertanyaan “nanti bong saem datang, bagaimana?”

“ck, kau tidak akan di skor hanya karena bolos sekali” papar sehun datar, “yuk?” ajaknya lagi

Entah kenapa Hana tidak menolak, padahal dia bisa saja diam menunggu pengajar lain datang, tapi ajakan sehunlah yang justru dipilihnya.

Sehun memamerkan motor besarnya, kemudian menyodorkan sebuah helm pada Hana. Hana dengan ragu-ragu menerima helm itu, bukan ragu sebenarnya, tapi gugup. Jujur saja, ini pertama kalinya dia akan naik sepeda motor.

“jangan takut, aku tak akan mencelakakan-mu” ucap sehun melihat Hana yang tiba-tiba pucat memadanginya juga motor besarnya.

“tapi…. Ini..ini.. pertama kalinya” kata hana terbata-bata. Sehun menahan untuk tersenyum, tapi tetap saja tak bisa ia tahan.

“naik saja, kau pasti suka naik motorku” sehun berusaha meyakinkannya, dan dia berhasil, Hana –meskipun diliputi ketakutan – akhirnya naik motor itu.

“sehun-ah, jangan ngebut!” pekik Hana bahkan saat laki-laki itu baru menggerungkan gas sekali. Mau tak mau dia tersenyum mendengarnya.

“tidak akan nona, sudah kubilang aku tak akan mencelakakanmu, tak akan pernah” ucap sehun yang terdengar seperti sebuah janji di telinga Hana, membuat gadis itu merasa aman dan entah mengapa… hangat.

Sehun memang tidak mengebut, dia membawa motornya dikecepatan rendah –sangat rendah bahkan. Mereka hanya berputar-putar dijalanan dekat sekolah, tapi kemudian sehun berinisiatif menepikan motornya di kedai ice cream.

“kau suka ice cream?” tanya sehun

Hana mengangguk dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, “tentu saja”

“ah~ berarti kau harus mentraktirku” canda sehun tapi karena datar jadi tidak terdengar seperti candaan.

“tidak adil” jawab Hana sambil melipat tangan di dada, “kau yang mengajakku keluar, jadi kau yang harus mentraktirku!” gerutu hana

Bahkan sebelum hana selesai dengan ucapannya, sehun telah siap memesan ice cream yang akan dia beli, dia berbalik sebentar, “kau mau rasa apa?”

“tidak mau kalau aku yang traktir” hana memanyunkan bibirnya, padahal dia bisa saja membeli ice cream itu sendiri atau bahkan membelikan sehun sekaligus, tapi lagi-lagi entah kenapa dia ingin diperlakukan lain oleh sehun.

“ige[12], rasa coklat? Atau vanilla?” sehun menyodorkan dua buah ice cream ke hadapan Hana, gadis itu kembali sumringah melihat kedua benda di tangan sehun, “YA cepat pilih! nanti meleleh, kau mau yang mana?” tanya sehun ketus

“vanilla” kata hana sambil mengambil sebuah ice cream di tangan kanan sehun. Sehun terlihat kecewa, karena dia pikir hana akan memilih rasa coklat, yang vanilla sebenarnya adalah untuknya.

Hana melihatnya, dan hana tahu sepertinya sehun tak suka rasa coklat – beberapa hari lalu sehun memberinya banyak coklat dengan bilang itu pemberian pamannya dari Switzerland, sehun bilang dia tak menyukainya – jadi dengan baik hati hana menyodorkan ice cream vanilla-nya untuk sehun.

“kau tak suka coklatkan? Ini” hana mengambil ice cream coklat ditangan kiri sehun dan menggantinya dengan vanilla yang –sempat – jadi miliknya.

“makanya jangan sok tau” kata hana lagi sambil menjilat ice cream coklatnya –sebenarnya dia suka keduanya tapi sehun memintanya memilih salah satu – tapi tak kunjung melihat sehun “menyentuh” vanilla-nya.

“YA! ice cream-nya meleleh!” teriak Hana, mengagetkan sehun, “aigoo kau ini” kata gadis itu lagi.

Sehun hanya tertawa melihat tingkah hana, gadis itu yang sadar dirinya di tertawakan kemudian menjitak kepala sehun, sehun terdiam seketika, membuat hana tertawa, lalu mereka berdua tertawa.

Entah sejak kapan rasa saling mengikat  itu dimulai, tapi mereka tahu kalau hidup mereka tak akan sama lagi. Tak akan pernah.

END~~

Love and love (epilog)

Sehun berbohong saat mengatakan dia dan Hana belum pernah bertemu sebelumnya, mereka memang pernah bertemu.

Semua tahu kalau Paran Senior High School terkenal dengan perkelahian dan kerusuhan, sehun pun dulu termasuk kedalam daftar murid “hitam” yang terkenal karena sering ikut perkelahian atau tawuran –padahal waktu itu dia baru saja masuk tingkat 1.

Dan hari itu, saat seoul sedang panas-panasnya, sebuah tawuran besar terjadi. Sehun ikut andil didalamnya, dia menjadi “playmaker” yang bertugas memerintah mereka yang tawuran untuk siap bergerak atau melakukan penyerangan. Sehun sedang meneriaki seorang temannya untuk kembali dan bertahan ketika matanya menangkap sosok yeoja berjongkok di bawah pohon besar di seberang jalan sana. Sehun –karena tak ingin ada korban lain selain mereka yang tawuran – mendekati gadis itu. ketakutan terpancar jelas dari mata gadis itu, dia juga gemetar dan mukanya pucat pasi.

“kau takut?” tanya sehun, sekedar basa-basi.

Gadis itu mengangguk dan hampir menangis, karena tidak tega, sehun dengan mengendap-endap membawa gadis itu keluar dari wilayah tawuran. Dia membawa gadis itu menuju halte terdekat dan bersamanya menunggui bis (sehun bodoh Karena malah meninggalkan teman-temannya di medan pertempuran), saat sebuah bis datang, sehun memapah gadis yang masih gemetar itu menaiki bis, tapi sebelum dia naik, gadis itu berbalik dan memeluk sehun. Dia menangis dan mengatakan terimakasih berkali-kali. Seumur hidup belum pernah ada yang memeluk sehun kecuali ibunya,tapi tiba-tiba saja ada seorang gadis memeluknya dan berterimakasih layaknya sehun seorang pahlawan yang menyelamatkannya dari kematian. Sehun tersentuh, bagaimanapun, saat itu dia sadar, kalau ternyata masih ada yang membutuhkan dirinya saat orang lain memakinya karena tidak berguna. sejak itulah dia mau ikut trainee dan akhirnya pindah ke Seoul Art School, dia hanya ingin berguna untuk orang lain. Tapi tak disangka, takdir mempertemukannya kembali gadis yang waktu itu. sama seperti pertama kali bertemu, gadis itu menyadarkannya lagi hal yang terlupakan olehnya. Salah satunya tentang bagaimana rasanya mencintai. Benar, rasanya… sehun mulai mencintai gadis itu, gadis bernama Kim Hana itu.

Apa yang salah dengan dirinya? Hana telah mengikuti semua peraturan dan saran dokter, mengapa sekarang justru tumbuh penyakit lain? Haruskah dia memeriksakannya pada dokter?

Tidak. mungkin dia belum butuh dokter, tapi butuh sahabatnya, dia butuh jisuk!

“jisuk-ah.. bisakah kau datang kerumahku sekarang?” hana berbicara lambat-lmabat, sengaja agar sahabatnya itu bisa mengerti dengan jelas apa yang ia inginkan.

“ada apa?” tanyanya di balik telpon.

Hana mendesah pelan, “ada sesuatu yang penting”

Dia tahu jisuk akan datang, dan dia hanya butuh menceritakan hal ini pada sahabatnya, penyakit aneh ini.

Selang beberapa menit, jisuk melongokan kepala ke kamar hana, dan si empunya kamar sedang bernyanyi kecil. Apa yang dia maksud sesuatu yang penting? Tanya jisuk dalam hati

“jisuk-ah, akhirnya kau datang” hana terlihat senang dengan kedatangan jisuk, dia menggamit tangan jisuk erat dan membimbingnya duduk di tempat tidut hana.

“aku… aku menderita penyakit aneh” bisik hana horror

Jisuk menoleh dan meminta hana menceritakan lebih lanjut.

“aku dihantui seseorang, dan sedetikpun tak bisa untuk tak memikirkannya!”  hana mengatur napasnya, kemudian melanjutkan, “aku merasakan jantungku berdebar jutaan kali lebih cepat, bahkan sesekali aku merasa jantung ku ini akan meloncat keluar”

“siapa dia yang menghantuimu?” jisuk menyela, dia tahu kemana arah pembicaraan ini.

“se…sehun” jawab hana terbata-bata

“sudah kuduga..” jisuk mengangguk-angguk layaknya detektif, “aku tahu penyakitmu”

“apa apa apa?” tanya hana tak sabaran

“kau… jatuh cinta”


[1] Aigoo : astaga

[2] Tentu saja

[3] Benarkah?

[4] Apa? Atau ya?

[5] Tidak apa-apa/baik-baik saja

[6] Laki-laki

[7] iya

[8] Ayo pergi

[9] Apa?!

[10] Mengapa?

[11] maaf

[12] ini

Advertisements

4 thoughts on “[FANFIC CONTEST] 1st Winner “KIM HANA’S BRAND NEW DAY!”

  1. aigoo~ sehun mmg cocok jd namja cool, pendiam, tak banyak bicara..haha
    tapi ga nyangka ternyata mreka pernah bertemu saat sehun lg tawuran..
    seneng jg akhirnya mreka memiliki perasaan yg sama walau belum saling mengungkapkan..
    chukkae jd pemenang ^^

  2. Waaa daebak ffnya keren ^o^
    sempet ngakak juga pas bgian hana ma jisuk ngobrol wkwk
    bsa dibyangin Sehun berwajah dngan tampang tdak bersalah,n suara datarnya, cool pasti hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s